Seorang Ibu Pemulung Penderita Kangker Payudara Stadium 4 Mendapatkan Pertolongan Relawan Kemanusiaan HILMI

Hilal Merah Indonesia. Tanggerang Selatan — Di wilayah dan area Tangerang Selatan ada sebuah wilayah yang dihuni oleh Para Pemulung atau biasa disebut sebagai LP (lapak pemulung). Profesi Pemulung seringkali masih mendapat nyinyiran atau dianggap sebagai aib oleh kebanyakan masyarakat kita

Di satu sisi para pemulung ini seringkali dikonotasikan secara negatif. Mereka seringkali  diasosiasikan sebagai pencuri dan pemukiman  mereka  disalahkan  sebagai tempat berkembang  biaknya  sumber penyakit yang menular seperti demam berdarah  dan diare. Terlebih lagi, pemukiman mereka dipandang dapat merusak  ketertiban dan keindahan dari sebuah kota yang baik.

Padahal Para Pemulung dan cara hidup mereka juga memiliki peranan dalam melestarikan lingkungan. Di sisi lain, tanpa adanya sistem  daur-ulang yang komprehensif (menyeluruh) dari pihak  pemerintahan kota, pekerjaan para pemulung ini bisa dilihat sebagai suatu kebutuhan (dari sisi daur ulang limbah dan pelestarian lingkungan).

Disalah satu Lapak Pemulung tersebut tinggalah seorang Ibu Pemulung dan anak laki-lakinya. Ibu Pemulung itu bernama Ibu Siwen berusia 50 tahun dan telah ditinggal oleh suaminya sejak tahun 2002. Saat ini kondisi kesehatan Ibu Siwen terganggu oleh penyakit berat berupa Kangker Payudara. Penyakit ini telah diidapnya sejak tahun 2018. Lapak Pemulung tempat  Ibu Siwen tinggal berada di Jurangmangu Pondok Aren. Tepatnya di Jalan Ceger Raya gang Iwafi Kelurahan Jurangmangu Timur Kecamatan Pondok Aren Rt 05 Rw 03.

Di kompleks Lapak Pemulung, Ibu Siwen tinggal di rumah hunian atau tepatnya gubuk tinggal bersama anak lelaki yang telah berusia 20 tahun. Sang Anak kini bekerja serabutan apa saja. Demi menafkahi dirinya dan Sang Ibu. Sementara Sang Ibu dalam kondisi mengidap Kangker Payudara masih terus saja berkeliling mencari barang rongsokan dan lainnnya.

Penghasilan serta perolehan Ibu Siwen saat ini sangat bergantung didapatnya barang rongsokan dan limbah yang bisa didaur ulang. Saat ini, jika setiap hari ditimbang paling tinggi hanya dapat 30 ribu. Itupun jika dapat barang banyak.

Penyakit tersebut diketahui saat Ibu Siwen bekerja di Malaysia. Ia pernah selama 2 tahun bekerja di Johor Baru. Suatu saat Ibu Siwen mengalami gangguan kesehatan dan Ia pergi berobat ke Rumah Sakit Johor Baru (Johor Baru Hospital). Dokter di Rumah Sakit tersebut menjelaskan jika ia telah terkena Kangker Payudara.

Sejak itu Ia kembali ke Indonesia dan akhirnya menjadi penghuni Kompleks Lapak Pemulung di Jurangmangu. Sejak kepulangan nya Sang Ibu Siwen kembali dari Malaysia. Ia tidak pernah sekalipun periksa dan berobat ke Dokter atau operasi sakit yang dideritanya itu, Ibu Siwen hanya minum obat Herbal saja.

Menurut penilaian sesama warga penghuni kompleks Lapak Pemulung Jurangmangu, Ibu Siwen seorang yang baik dan rajin beribadah. Ibadahnya tidak pernah ketinggalan ujar mereka.

Singkat cerita sekelumit kisah Ibu Siwen akhirnya sampai ke salah seorang Relawan Kemanusiaan Hilmi Front Persaudaraan Islam yang kemudian meneruskan informasi tersebut untuk dibahas dan dijajaki. Setelah itu Tim Relawan Kemanusiaan DPP Hilmi segera mengarahkan dan mengutus Tim Relawan Tangsel untuk mendatangi dan melakukan pengecekan tentang Kondisi Ibu Siwen.

Hasil penjajakan tersebut membenarkan keberadaan serta kondisi kesehatan Sang Ibu Siwen. Tim Relawan Kemanusiaan segera melakukan perekaman data kondisi Ibu Siwen untuk diteruskan kepada Ketua Relawan Kemanusiaan Hilal Merah Indonesia Front Persaudaraan Islam. Tim survei dan pengecekan juga membawa logistik yang diberikan kepada Ibu Siwen.

Selanjutnya tindakan yang akan dilakukan oleh Tim Relawan Kemanusiaan yang dilakukan ditahap awal adalah mengkonsultasikan kondisi Ibu Siwen kepada Tenaga Medis serta mengirimkan obat-obatan kepada Ibu Siwen. Berikutnya adalah memonitor perkembangan kondisi Ibu Siwen dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan kesehatan Sang Ibu.

Relawan Kemanusiaan HILMI di lapangan bekerjasama dengan Ibu Sukinah biasa dipanggil Umi Ina oleh warga pemulung. Ia adalah santri khidmat dari Darul Tauhid dan juga seorang Relawan dari lintas komunitas Tangerang Selatan. Sedangkan Teteh Sholeha adalah Bos Lapak Pemulung yang selalu bersinergi serta ringan tangan membantu memberitahukan akankebutuhan serta kesulitan yang dialami warga pemulung walau bukan anak uah The Leha.

Merekaberdua sepakat ingin bermanfaat buat umat, hanya cara yang mereka punya adalah dengan terus bergantung akan keajaiban Allah SWT ujar mereka. Terus dan terus yakin seyakin-yakinnya akan hadir pertolongan Allah melalui kekuatan Doa dengan frekuensi Doa yang sama.

Tim Relawan Kemanusiaan telah membulatkan tekad akan terus berihtiar dengan ghiroh (semangat) untuk membantu  meringankan beban penyakit Ibu Siwen. Alhamdulillah Tim Relawan Kemanusiaan HILMI Pusat telah memberikan uang zakat serta sembako kepada Ibu Siwen.  

Narasumber: Muhammad Arif aktifis sosial budaya; Ali Al hamid Ketua Relawan Kemanusiaan DPP HILMI Front Persaudaraan Islam

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Seorang Ibu Pemulung Penderita Kangker Payudara Stadium 4 Mendapatkan Pertolongan Relawan Kemanusiaan HILMI
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *