Masamba, Tim HILMI FPI Disangka Rombongan Pencabut Nyawa

Hilal Merah Indonesia, SULAWESI SELATAN – Kronologi bencana banjir Bandang Masamba di Luwu Utara terjadi dengan sangat cepat. Kejadian banjir bandang tersebut terjadi di hari Senin, tanggal 13 Juli 2020 sekitar jam 21.00 WITA (Waktu Indonesia Bagian Tengah). Banjir bandang datang menerjang tempat tinggal warga dan memakan korban sebanyak 38 jiwa meninggal dunia. Sebanyak kurang lebih 500 rumah terendam dan masih banyak lagi korban yang hilang.

Peristiwa tersebut diduga terjadi karena banyaknya penebangan liar yang terjadi di wilayah Maipi, Luwu Utara serta terjadinya pendangkalan sungai. Di saat malam kejadian, tepatnya mulai jam 20.35 WITA, Grup Ukhwa FPI Palopo mulai ramai membahas peristiwa tersebut. Kemudian segera menyusun rencana untuk berangkat ke lokasi terjadinya bencana. Ada anggota grup yang mengirim video dasyatnya banjir bandang, dan ada yang bilang “Masamba darurat, Siapa yang mau kesana malam ini?” setelah itu bahkan ada yang sudah berangkat pada malam hari dan sudah ada di lokasi sekitar jam 02.00 WITA yaitu dari DPW FPI Luwu Timur.

Saat pagi hari, setelah rapat darurat, DPW FPI PALOPO segera menyiapkan beberapa personal untuk diberangkatkan ke tempat bencana terjadi dan membuka Donasi peduli bencana Luwu Utara. Donasi disebar melalui media sosial (medsos), diumumkan di Masjid, serta jalan dari rumah ke-rumah untuk menjemput donasi dari masyarakat. Tim DPW FPI PALOPO berangkat sekitar jam 07.00 WITA membawa bantuan berupa; pakaian dan makanan instan, air mineral, dan sebagainya. Sedangkan tim yang tinggal disekretariat bertugas menerima donasi dari masyarakat.

Ada sebuah kejadian unik di lokasi bencana. Kejadian ini berawal pada saat Tim DPW FPI PALOPO membawakan bantuan makanan siap santap ke tempat salah satu warga yang terkena dampak bencana. Warga tersebut mengira yang datang adalah malaikat pencabut nyawa. Warga tersebut bilang “Pada malam itu kami dalam keadaan lapar, tiba-tiba ada bayangan putih, saya kira malaikat yang datang, tapi setelah berbalik, saya membaca tulisan FPI, dan saya bilang “Owh ternyata FPI”.

Luas wilayah terdampak terdiri dari beberapa kecamatan antara lain: kecamatan Masamba; Kecamatan Sabbang; Kecamatan Baebunta; Kecamatan Baebunta Selatan; Kecamatan Malangke dan Kecamatan Malangke Barat. Total terdapat 6 kecamatan terdampak banjir bandang. Sedangkan wilayah yang terkena dampak terparah terdapat di Desa Radda dan desa Meli, Kecamtan Baebunta serta Kecamatan Masamba.

Proses menuju lokasi bencana diawali dari Kota Makasar menuju Masamba ditempuh selama 22 jam (dalam kondisi normal hanya 9-10 jam). Tim berangkat menuju ke lokasi menggunakan kendaraan roda 4 dan kendaraan roda 2. Jarak menuju lokasi dari ujung jalan tempat pengungsi berjarak sekitar 23 KM, dengan akses jalan cukup terjal serta melewati pinggiran sungai. Disebabkan buruknya kondisi jalan di area lokasi sehingga menyebabkan mobil tidak dapat digunakan, ahirnya mau tak mau akses menuju lokasi ditempuh dengan berjalan kaki.

Tim yang terjun kelapangan merupakan Tim gabungan Hilal Merah Indonesia yang berasal dari berbagai wilayah, antara lain: DPD FPI Makassar (HILMI FPI); DPW FPI Makassar (HILMI FPI); DPW FPI Kabupaten Gowa (HILMI FPI); DPW FPI PALOPO (HIMI FPI); DPW FPI Luwu Timur (HILMI FPI); DPW FPI Luwu Utara (HLMI FPI); DPW FPI Luwu; dan DPW FPI Poso (HILMI FPI). Tim gabungan tersebut langsung dipimpin oleh Habib Muhammad Syihab.

Setibanya di lokasi tim segera turun terlibat melakukan pebersihan tempat ibadah (masjid), rumah warga termasuk evakuasi barang-barang warga. Selain itu tim juga melakukan pembagian sembako (sembilan bahan pokok), alat dapur, serta kompor gas (lengkap dengan tabung). Kemudian dilanjutkan dengan membuka tempat isi ulang tabung gas 3 kg gratis.

Tim pun membuka posko di tempat yang disediakan oleh warga berupa sebuah ruko yang dipercayakan kepada Ketua DPD FPI Luwu Utara. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan logistik tim di lapangan, logistik didapat berasal dari sumbangan warga. Berapa lama keberadaan tim di lapangan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada dilokasi. Tim gabungan telah berada di Masamba kurang lebih selama 1 bulan.

Kendala yang ada dilapangan terutama disebabkan paktor rusaknya prasarana yang ada. Ada lokasi yang bisa ditempuh dengan kendaraan sebaliknya ada pula lokasi yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Melihat kedatangan Tim FPI gabungan tersebut warga sangat antusias dan sangat senang dengan datangnya bantuan bahkan ada yang mengatakan “ini yang kami tunggu-tunggu”.

Jenis bantuan logistik yang diberikan kepada warga di Masamba terdiri dari antara lain: makanan siap santap; Obat-obatan; sarung/selimut; pakaian layak pakai; uang; perlengkapan bayi serta sembako. Sementara kondisi saat ini infrastruktur yang ada di Masamba masih belum normal dan masih dalam tahap perbaikan. Saat ini serta kedepan Tim Gabungan HILMI FPI akan terus memantau wilayah terdampak bencana banjir dan akan terus memberikan bantuan kepada warga yang terdampak di Masamba.

Narasumber : Ketua DPD HILMI FPI Sulawesi Selatan, Al-Habib Muhammad Syahab

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Masamba, Tim HILMI FPI Disangka Rombongan Pencabut Nyawa
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *