Kisah Dibalik Pembangunan Rumah Warga Nasrani dan Muslim di Tanah Karo

Hilal Merah Indonesia, MEDAN – Program misi kemanusiaan pasca erupsi Gunung Sinabung berlanjut ke tahap kedua. Diakui Habib Hud, dalam proses tahap kedua itu FPI SUMUT tidak memiliki anggaran dana.

Bahkan menurutnya penggalangan donasipun tak pernah dilakukannya.

Sementara pada saat itu, ada salah satu rencana yang akan dilakukan Habib Hud untuk membantu warga yang terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo yaitu membangun rumah warga muslim dan non muslim.

“Alhamdulillah, wacana tersebut menjadi bulat hingga kami melakukan penyurveian lokasi. Dalam survei itu, kami mendapati rumah janda seorang nasrani dan seorang bilal mayit yang memang wajib mendapatkan bantuan rumah,” ungkap Habib Hud.

Usai melakukan penyurveian, Habib Hud sudah mendapatkan gambaran siapa saja yang benar-benar laik mendapatkan bantuan tersebut. Sayangnya, beliau masih terbentur pendanaan.

“Alhamdulillah, saat itu media lokal menyiarkan kabar soal kegiatan FPI di Tanah Karo sehingga menarik minat Wakapolda Sumut, Agus Indrianto yang saat ini menjabat selaku Kapolda Sumut tertarik untuk berkunjung ke Markas FPI Sumut,” kata Habib Hud.

Saat itu, lanjutnya, mereka hadir beserta jajaran pejabat tingginya sebanyak 8 orang. Mereka menanyakan berbagai hal kemanusiaan yang telah dilakukan FPI saat itu.

Sehingga pada akhirnya, Kapolda Sumut turut berpartisipasi dalam program kemanusiaan yang digagas Habib Hud, yaitu membangun rumah muslim dan non muslim.

(Baca : Rumah Seorang Janda Kristiani Direnovasi FPI )

“Saat itu mereka siap untuk membantu bahan material dan menyuplai berbagai macam keperluan untuk pembangunan rumah-rumah tersebut. Adapun hal lainnya juga kami siapkan seperti tenaga kerja serta material lain yang remeh-temeh seperti paku, baut, kawat dan ini-itu dan lain sebaginya yang bukan material dalam bentuk besar,” papar beliau.

Proses Perenovasian dan Pembangunan Tahap Kedua Oleh FPI SUMUT.

Alhamdulillah, kegiatan tersebut mendapat antusias dari warga. Bahkan dari 3-4 Kecamatan disana semuanya mengetahui bahwa FPI hadir disana. Hingga pembicaraan itupun merebak, masuk ke ranah sosial media hingga seluruh Kabupaten Tanah Karo.

Mengetahui program yang dilakukan FPI Sumut dan Kapolda Sumut disana, kata Habib Hud, menjadi sebuah perbincangan yang tersuar dan merebak.

Ada sebagian masyarakat yang masih sinis dan men-cap pencitraan, ada juga sebagian yang mengira kegiatan itu sebuah misi Islamisasi dan lain sebaginya.

“Tapi kita selalu menekankan kepada masyarakat disana, di dalam program yang kita lakukan semuanya murni kemanusiaan. Tak ada lebih-tak ada kurang,” Kata Habib Hud.

Bahkan ada beberapa pendeta yang sempat mendatangi kita. Sayapun menjelaskan kepada pendeta-pendeta tersebut, agar menanyakan kepada warga yang sudah kami bantu, apakah ada ungkapan atau pembicaraan menyangkut soal agama? jikalau ada silahkan usir kami,” beber Habib Hud.

Pada akhirnya merekapun berteriak ‘Haleluya‘, bahkan ada beberapa preman disana yang gembira.

Selain itu, ada salah seorang Kepala Desa disana meminta baju FPI untuk dipakainya, kalau ada yang macam-macam dialah yang terdepan, padahal dia seorang Nasrani.

“Begitulah respon serta antusias mereka, karena kita hadir disana tanpa ada embel-embel. Bahkan bukan sekadar rumah yang kita bangun, kita juga merenovasi sebagian rumah alias tambal-sulam kepada warga disana. Bahkan ada beberapa kuburan nasrani yang atapnya hancur, kita juga bantu perbaiki,” jelas Habib Hud.

FPI Sumut Bekerjasama dengan KAPOLDA SUMUT.

Pada program tahap kedua yang dilakukan FPI bersama Kapolda Sumut ini, rencananya akan mendirikan 21 unit rumah muslim dan nasrani.

“Alhamdulillah rumah yang saat ini sudah kita bangun ada lima unit. Tiga rumah muslim dan dua rumah nasrani,” kata beliau.

Program tersebut menjadi sebuah perbincangan di kalangan masyarakat Tanah Karo, kemudian mencoba mendekati Habib Hud seraya menanyakan tentang FPI, kenapa FPI seperti ini.

Jadi rumah nasrani yang rata-rata tinggal disana terheran kenapa mereka dibantu? ‘Kami Nasrani, kami orang kristen, kenapa FPI bangun rumah orang Kristen?’ begitu ungkapan mereka kepada Habib Hud.

“Semua pertanyaan itu yang selalu dilontarkan oleh masyarakat. Tapi, tetap pada jalur kemanusiaan bahwa program yang kami salurkan adalah murni bantuan kemanusiaan tanpa memandang suku, ras maupun agama,” jelas Habib Hud.

Berikut Dokumentasi dari beberapa rumah yang berhasil di abadikan oleh Tim Media dan Publikasi HILMI – FPI
HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Bedah Rumah / Kisah Dibalik Pembangunan Rumah Warga Nasrani dan Muslim di Tanah Karo
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram

One thought on “Kisah Dibalik Pembangunan Rumah Warga Nasrani dan Muslim di Tanah Karo”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *