Rencana tim HILMI-FPI untuk membangun dua unit sekolahan di Desa Katin Pite Shay dan Desa Dua Myaung

HILMI-FPI Akan Bangun Dua Unit Sekolah di Rohingya

Hilal Merah Indonesia, ROHINGYA – Tidak terasa perjalanan kemanusiaan tim HILMI-FPI sudah memasuki hampir 1,5 tahun. Sementara perjalanan tim relawan HILMI-FPI yang ke-6, dalam melanjutkan misi kemanusiaan di wilayah garis merah di Rohingya pada tanggal 24 Maret 2019 lalu mengalami kendala yang sangat krusial, demikian seperti dikisahkan Ustad Choirul RS.

Beliau menyatakan perjalanan tersebut, dinilai sama persis dengan kedatangannya 3 bulan yang lalu saat menyampaikan bantuan dari masyarakat Indonesia untuk Rohingnya. Tetiba di Yangon, ustadz Choirul RS harus menanti sampai 3 hari untuk bisa terbang menuju Provinsi Sittwe, yang mana provinsi tersebut merupakan ‘tapal batas’ konflik.

Tiga hari kemudian, yaitu pada 27 Maret 2019 ustad Choirul tiba di Provinsi Sittwe setelah terbang selama 1 jam 30 menit. Lagi-lagi, beliau belum bisa masuk secara baik bahkan gagal masuk ke perkampungan Rohingnya, lantaran ketegangan masih terus terjadi. Namun, setelah 2 hari berada di Provinsi tersebut akhirnya beliau bisa masuk dan bisa menuju ke beberapa desa disana.

“Kedatangan saya kali ini, dalam rangka serah-terima 300 handpump serta bantuan sembako sebanyak 500 paket, yang sebelumnya sudah ribuan sembako yang berhasil tersalurkan. Kemudian ada susu, minyak goreng, kentang, garam, serta kopi,” kisah ustad Choirul, dalam misinya.

Selain pembagian sembako, HILMI-FPI juga mulai membangun Sekolahan yang sebelumnya telah dibangun 300 hand pump dan 15 Toilet serta 25 rumah. “Inipun masih banyak kekurangan, terutama handpump serta kamar mandi dan toilet,” tandasnya.

Menurut ustad Choirul, dua unit sekolahan bisa menghabiskan dana sebesar USD 18.400 dengan bangunan semi permanen sudah termasuk handpump 2 unit serta toilet dan kamar mandi.

“Kami juga masih harus membuat handpump lagi, karena masih penduduk disana yang membutuhkan ratusan handpump, sementara penduduk muslim di Rohingnya ini sangat padat,” jelasnya.

Ustad Choirul juga menggambarkan kondisi kehidupan penduduk Rohingya yang hidup tanpa toilet dan kamar mandi serta tempat tinggal seadanya menjadikan suatu keprihatinan tersendiri oleh HILMI dan FPI.

“Coba saja anda bayangkan, mereka tinggal dalam sebuah rumah yang dibalut dengan dinding daun serta plastik. Atap rumah tersebut juga menggunakan daun berlantaikan tanah. Yang lebih mengenaskan lagi, ratusan keluarga hidup diantara pemakaman dengan bedeng seadanya. inilah kenyataan keberadaan saudara kita disana,” urai Choirul.

Di Rohingnya ini, katanya, sampai detik ini saja ketegangan serta konflik masih saja terjadi. Tapi mengapa dunia seolah bungkam?, seperti sudah baik baik saja. Padahal kenyataanya semakin parah. Hanya saja, saat ini pembunuhan/pembantaian terhadap warga Rohingya sudah sangat berkurang.

“Perlu saudara-saudara ketahui, bahwa jutaan penduduk muslim di Rohingnya ini sampai sekarang belum bisa diperbolehkan keluar dari perkampungan untuk beraktivitas mencari rezeki. Mereka seperti hidup di dalam sangkar yang tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar. Hidup tanpa identitas, begitulah mereka,” ungkap Choirul.

Memang benar, di Indonesia sendiri juga banyak masalah dan di Indonesia juga bukan pula negara yang aman. Tapi semiskin-miskinnya rakyat Indonesia, mereka masih bisa tinggal dengan laik lagi nyaman.

“Selama saya menjalankan tugas memimpin tim expedisi ke Rohingnya, belum pernah ada yang mulus. Banyak terjadi kebakaran, entah disebakan oleh apa, suasana disana juga masih sangat mencekam. Tetapi dengan keikhlasan serta doa dari para guru serta sahabat-sahabat saya, Allah SWT Melindungi saya dari marabahaya,” kata beliau.

Ustad Choirul berpesan kepada saudara-saudara muslim di Indonesia, semoga masyarakat di Indonesia terketuk pintu hatinya untuk bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk disalurkan kepada warga Rohingnya.

“Kami dari tim HILMI-FPI masih akan terus membangun hand pump, toilet, kamar mandi serta gedung-gedung sekolah. Dan sudah barang tentu masih banyak membutuhkan pembiayaan. Untuk itu, marilah kita sisihkan sebagian harta kita untuk Rohingnya,” pesan Choirul. Rencananya, Desa yang akan dibangun dua unit sekolahan oleh tim HILMI-FPI kedepannya adalah Desa Katin Pite Shay dan Desa Dua Myaung.

Untuk 500 paket sembako yang disalurkan bersamaan dengan kedatangan tim HILMI-FPI yang ke-6, telah didistribusikan ke-3 desa, diantaranya Desa Dar Paing 223 paket, Desa Bay Dar 157 paket serta Desa Jat Oho 125 paket.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Program Bantuan Rohingya / HILMI-FPI Akan Bangun Dua Unit Sekolah di Rohingya
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram