Entang Ahmad Hidayat, salah seorang relawan HILMI-FPI Jawa Barat melakukan pendekatan dengan salah seorang korban tsunami di Desa Cogorondong, Kecamatan Sumur, Pandeglang-Banten

Kisah Perjuangan Relawan HILMI-FPI Taklukan Ujung Kulon

Hilal Merah Indonesia, BANTEN – Pasca bencana alam tsunami yang menerjang kawasan Selat Sunda khususnya di wilayah Banten dan sekitarnya, para relawan HILMI-FPI Nasional yang menyebar ke beberapa titik terdampak, telah melakukan upaya pemulihan hingga ke berbagai daerah terpencil di Provinsi Banten.

Seperti Desa Cigorondong dan Tamanjaya yang terletak di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Kedua desa tersebut, merupakan desa yang tak luput dari terjangan tsunami beberapa waktu lalu. Tak sedikit korban jiwa dan hancurnya pemukiman yang melanda desa tersebut.

Wilayah ini memang berada cukup jauh dan terpencil, setidaknya jarak dari Ibu Kota Kecamatan sekitar 13 KM, sementara dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang berjarak 119 KM dengan hiasan jalan yang penuh dengan lubang dan genangan.

Bukan bermaksud menonjolkan diri, tapi memang relawan HILMI-FPI lah yang hingga kini masih terus bertahan di lokasi tersebut hingga masyarakat sekitar benar-benar merasa aman dan nyaman.

Seperti dikisahkan Abah Aan dan Entang Ahmad Hidayat serta beberapa relawan HILMI-FPI Jawa Barat lainnya yang sedari awal kejadian tsunami hingga saat ini, mereka masih terus bertahan serta berupaya memberikan bantuan baik moril maupun materiil yang dibutuhkan warga setempat.

Kedatangan para relawan HILMI-FPI di desa ini awalnya mendapat cibiran dari masyarakat. Jujur, awalnya mereka sangat membenci FPI, bahkan sejak awal pendirian posko relawan di Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadul Barokah, pengasuh Ponpes bernama Kang Aden ini juga sempat tak suka keberadaan FPI,” urai Kang Entang kepada media HILMI-FPI, Selasa malam (12/2/2019).

Namun, kata dia, setelah dijalani selama beberapa hari rupanya Kang Aden memperhatikan kinerja para relawan FPI yang setiap harinya pontang-panting berjibaku untuk membantu para korban di daerah tersebut.

Awalnya Abah Aan dan saya meminta izin untuk membuka Posko di Ponpes Riyadhul Barokah ini. Karena di lokasi ini sangat strategis dan berada di tengah-tengah. Waktu awal dia tak menjawab,” beber Kang Entang.

Setelah dua hari, kinerja kami diperhatikan beliau (pemilik Ponpes), mulai dari adab dan sopan santun kepada para warga. Akhirnya, setelah Kang Aden menghadap saya, beliaupun langsung terbuka uneg-unegnya,” imbuhnya.

Kang Aden pun mengakui, lanjutnya, awalnya beliau itu bimbang. Mau ditolak gimana, diterima juga gimana. Karena sebelumnya masyarakat di daerah tersebut sangat benci sama FPI.

Alhamdulillah, dengan sikap sopan-santun para Laskar FPI terutama Abah Aan yang gemar bersosialisasi dengan masyarakat setempat, kini mereka sudah mulai mengerti dan menilai bahwa para relawan FPI tak seburuk yang dikira,” jelas Kang Entang.

Apalagi, setelah melihat kinerja para relawan yang datang dengan penuh kegigihan. Wargapun mulai berdatangan, mereka mulai terbuka dan sempat menggelar musyawarah dengan HILMI-FPI.

Alhamdulillah, saat ini sudah banyak yang ingin masuk jadi anggota FPI. Insya Allah kedepannya akan ada Deklarasi untuk pembentukan DPRa di dua desa. Mereka pun kini, khususnya para nelayan Taman Jaya dan Ujung Jaya, meminta perahunya untung dipasang bendera FPI,” bangga Entang.

Sebagai informasi, para relawan HILMI-FPI yang mendirikan Posko di Taman Jaya-Sumur, telah berhasil membantu mendirikan sebuah MCK serta renovasi Ponpes Riyadhul Barokah. Kemudian, pembangunan dua buah rumah anak yatim, 1 rumah untuk panti jompo dan 1 rumah untuk marbot Masjid di Desa Cigorondong.

Perlu diketahui juga bahwa di lokasi ini hanya ada satu Pondok Pesantren yang sangat disegani oleh warga setempat. Bahkan, mayoritas anak-anak mereka semua mengaji di Ponpes tersebut, yaitu Riyadul Barokah.

Oleh karenanya, masyarakat sangat segan dengan Kang Aden meski beliau masih tergolong muda. Hal inilah yang kemudian membuat kami merasa bangga, karena telah berhasil menaklukan warga Ujung Kulon yang awalnya sangat benci dengan FPI,” seru dia.

Bahkan, awalnya Ponpes Riyadhul Barokah ini tak menerima bantuan darimanapun baik pemerintah maupun partai. “Tapi saat para relawan HILMI-FPI yang merenovasi Ponpes tersebut, beliau sangat senang dan menerimanya,” kata Kang Entang.

Diakuinya, hal ini juga berkat perjuangan Abah Aan yang rajin bersosialisasi alias ‘blusukan’ ke setiap warga untuk menjelaskan cikal-bakal HILMI-FPI kepada masyarakat awam, sehingga mereka saat ini berbalik suka dan berhasrat manjadi anggota FPI.

Rencana selanjutnya, kami akan mencari donasi untuk membelikan alat-alat hadroh untuk para santri di Pesantren Riyadul Barokah. Tujuannya selain untuk mempersatukan umat juga mencetak generasi muda pejuang santri yang akan memperjuangkan wilayahnya,” tuntasnya.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Kisah Perjuangan Relawan HILMI-FPI Taklukan Ujung Kulon
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram