DPW FPI Lampung Selatan memaparkan kronologi peristiwa tsunami di daerah Kalianda

Ini Kronologi Peristiwa Tsunami di Lampung Selatan

Hilal Merah Indonesia, LAMPUNG SELATAN – Setibanya di Bandar Lampung, DPP HILMI-FPI langsung diantar salah seorang relawan FPI menuju salah satu lokasi Posko Kemanusiaan FPI di daerah Kalianda, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Di lokasi ini, nampak sebagian rumah di sepanjang pesisir Kalianda rata dengan tanah.

Sejauh mata memandang, hanya reruntuhan material bangunan serta bebatuan yang tersisa sepanjang perjalanan menuju Posko relawan. Terdapat dua tempat Posko yang lokasinya tak berjauhan dijadikan sebuah gudang penyimpanan logistik untuk disalurkan ke para pengungsi yang masih tinggal di perbukitan.

Kedatangan DPP HILMI-FPI langsung disambut Ketua DPW FPI Lampung Selatan, Yahya Munir beserta Ketua DPC Panengahan, Buana beserta para Laskar. Menurut Yahya Munir, DPW FPI Lampung Selatan terbentuk dua hari sebelum bencana tsunami datang menghantam.

Menurut Munir, DPW FPI ini terbentuk pada Kamis malam Jumat, 27 Desember 2018. Sementara peristiwa tsunami datang malam Ahad, 29 Desember 2018. Baru saja terbentuk langsung mendapat amanah dalam misi kemanusiaan.

PENCARIAN KORBAN

Begitu dapat informasi dari salah satu warga di Kalianda bahwa ada tsunami, kata Munir, ia langsung mengontak para relawan FPI yang sudah terbentuk. “Alhamdulillah kita langsung kumpul dan menuju TKP. Kita langsung menyisir daerah tersebut, begitu kejadian pukul 21:40 WIB, pukul 22:15 malam kita sudah di lokasi,” papar Yahya Munir.

Dengan 13 orang relawan, mereka langsung men-sterilkan jalan serta mencari para korban. Korban yang sakit dan luka-luka itu langsung dievakuasi ke Rumah Sakit terdekat. Keesokan harinya, para relawan dari DPC Penengahan, DPC Kalianda, DPC Sidomulyo langsung berdatangan.

“Waktu itu lampu mati total, sementara kita hanya mengandalkan lampu HP karena memang waktu itu gelap gulita. Tak lama kemudian, ada anggota Kepolosian yang melarang kami untuk masuk ke area terdampak. Tapi kita tetap memaksa masuk, karena kita mau lihat siapa tahu ada korban yang masih bisa diselamatkan,” jelas Munir.

Usai berhasil men-sterilkan lokasi, beberapa korban langsung dievakuasi. Mereka menyisir daerah tersebut hingga Ahad pagi. “Ada teriakan orang minta tolong, ada juga yang terjepit reruntuhan. Nah, waktu itu sayangnya HP Lowbat karena digunakan senter. Kami manya mengandalkan cahaya bulan, waktu itu kami belum bisa mengetahui ada jenazah atau tidak, karena kondisi jalan gelap gulita,” urai Munir.

Keesokan harinya, pencarian korban pun berlanjut. Merekapun berhasil mengevakuasi korban. “Setidaknya ada 13 jenazah yang sudah berhasil kami evakuasi ke rumah anggota DPR, Anton Imam dari Fraksi PKS,” kata dia.

Sementara pendirian Posko Relawan dibuka pada hari Senin. Kebetulan Kepala Dusun mengizinkan rumahnya digunakan sebagai Posko. “Ceritanya ketika mayat ini sudah kita mandikan, Alhamdulillah kita izin sama Pak Kadus, padahal waktu itu saya bingung juga, karena kita masih baru,” tambah Munir.

PEMBENTUKAN TIM RELAWAN

Tak lama kemudian, mereka langsung membentuk tim untuk mengevakuasi warga yang menjadi korban, setelah ditelusuri ternyata mereka mengungsi di atas perbukitan. “Setelah diketahui keberadaan mereka (warga), barulah mereka kita berikan sembako. Kebetulan waktu itu langsung ada, tapi terbatas,” .

Sumbangan awal, sambung Yahya, datang dari PKS yang mengirimkan bantuan logistik, lalu disusul dari DPC Sidomulyo. “Nah, barulah kemudian berbagai bantuan logistik datang, saat itu juga kita langsung salurkan seadanya ke pengungsi,” urainya. Kemudian, lanjut Yahya, dua mobil ambulance datang untuk membantu serta membawakan logistik.

“Seingat saya mereka dari KOMIL, yang datang untuk membantu sebagai tim medis. Saat pembentukan DPW dua hari sebelum bencana tsunami itu datang, kita sudah ada komunikasi jikalau terjadi suatu bencana mereka akan membantu. Kalau tidak salah, ada 18 korban luka-luka yang dievakuasi KOMIL,” beber Yahya.

Beberapa hari kemudian, Yahya merasa Posko sudah kurang memadai lagi untuk menampung logistik dan akhirnya mereka buka dapur umum di Kecamatan Panengahan. “Alhamdulillah ada seorang suami-istri yang bersedia untuk membantu pengerjaan dapur umum,” seru dia.

Seiring berjalan, lanjutnya, beberapa Mujahidahpun datang membantu untuk memasak. Sehari mereka sanggup mengerjakan 200 bungkus, pagi 100, sore 100 untuk makan para pengungsi.

“Awalnya kita support dengan nasi bungkus, tapi lama-kelamaan para pengungsi meminta bahan mentah saja. Karena alasannya mereka tak kesulitan untuk memasak, lantaran ada yang mengungsi di rumah family mereka yang tidak terkena tsunami. Jadi akhirnya kita suppotrt dengan logistik mentah seperti beras, mie dan lain sebagainya, kita berikan per KK,” jelas Yahya Munir.

Sementara itu, relawan DPW FPI Sidomulyo, Ahmad Nasir juga mengaku kekurangan relawan untuk menjangkau para pengungsi yang tinggal di perbukitan. Yang dibutuhkan saat ini, kata Nasir, adalah kasur lantai, karena pengungsi yang tinggal di bawah tenda merasa kedinginan, tidur hanya beralaskan tikar dan selimut.

“Kalau di Kecamatan Panengahan ada sekitar 800 jiwa, 90 persen sudah tertangani. Memang mandat yang diberikan Imam FPI Lampung, Habib Umar agar mendata seluruh pengungsi. Karena memang ada dua kategori yang tinggal di tenda-tenda pengungsian pertama rumah mereka habis dan ada pula yang trauma,” jelas Nasir.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Bencana / Ini Kronologi Peristiwa Tsunami di Lampung Selatan
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram