Ketua Umum DPP HILMI-FPI, Habib Ali Al Hamid, beserta para relawan HILMI-FPI Jawa Barat yang berada di Posko III, di Pandeglang-Banten

Kisah Kegigihan Relawan HILMI-FPI Dalam Misi Kemanusiaan

Hilal Merah Indonesia, BANTEN – Usai bertatap muka dengan sejumlah pengurus DPW FPI Cibaliung dan DPC FPI Sumur, beserta para Laskar FPI, Perjalanan DPP HILMI-FPI berlanjut ke Kiara Gondok, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang-Banten untuk meninjau lokasi bencana tsunami.

Jarak yang ditempuh kali ini cukup menyita waktu, apalagi dengan kondisi jalan yang rusak parah dihiasi lubang di sepanjang jalan. Menyaksikan sendiri jalanan yang penuh dengan genangan air, tentunya memaksa kami untuk ekstra sabar serta hati-hati menghadapinya.

Sepertinya, kondisi infrastruktur yang terjadi di daerah ini sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak, tanpa ada upaya penanganan dari pihak Pemerintah. Hal ini tentu sangat menyulitkan evakuasi warga pesisir jikalau terjadi sesuatu hal di luar dugaan.

Kami tak bisa membayangkan, jika saja ada salah satu warga yang hendak melahirkan? atau bahkan justru mengalami kondisi kritis yang harus segera ditangani oleh pihak Rumah Sakit? berapa lama harus tertangani?

Begitu pula perjuangan yang dilakukan para Laskar FPI yang hadir ke wilayah ini pasca tsunami terjadi. Tanpa berfikir terlalu jauh, tujuan mereka hanya satu untuk kemanusiaan. Tak peduli aral apa yang menghadang di depan dan tak pernah terlintas kekhawatiran saat memboyong bala bantuan.

Setibanya di Posko III, para relawan HILMI-FPI dari berbagai daerah datang menyambut kami. Setidaknya terdapat 40an relawan yang telah berkumpul di salah satu Pondok Pesantren Riyadul Barokah, yang dijadikan sebuah Posko Relawan HILMI-FPI.

Menurut Abah Aan, lokasi ini sangat strategis untuk bisa menjangkau korban tsunami yang berada di Ujung Kulon dan Taman Jaya. Sebelumnya, abah meninjau lokasi ini ditemani oleh warga menggunakan motor dengan kondisi hujan lebat.

“Pasca tsunami, perkampungan ini amat sepi tak ada listrik dan tak ada orang sama sekali sampai ke Ujung Kulon. Kemudian kami mencari titik lokasi untuk dijadikan sebuah Posko,” urai Abah Aan.

Sampai suatu ketika, abah Aan bertemu dengan Ibu-ibu Majelis Taklim seraya meminta izin agar lokasi ini dijadikan sebuah Posko. “Namun ibu itu tak bisa berkomentar, lantaran suaminya masih mengungsi di perbukitan. Kemudian saya kembali ke Posko II, untuk mengabarkan semuanya, hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat ini dengan memboyong 15 orang relawan,” ungkapnya.

Sementara itu, Entang Ahmad Hidayat, relawan HILMI-FPI Jawa Barat mengatakan, Pesantren Riyadul Barokah ini memiliki 200 orang santri yang 50 orang diantaranya menetap disini.

“Saat para relawan datang ke tempat ini belum ada kamar mandi yang laik. Makanya kami berinisiatif untuk membangun sebuah MCK, karena kamipun kesulitan untuk mandi dan sebagainya,” ucap Entang. Untuk pembuatan MCK ini, lanjut Entang, perwakilan DPW FPI Malang, Andre telah menanggung pembiayaan materialnya.

Perwakilan DPW FPI Malang ini menyempatkan hadir ke wilayah bencana tsunami Selat Sunda dengan menggunakan bus ke Anyer. Andre kemudian menyewa sebuah mobil dan hadir ke wilayah ini di hari kedua, dimana kondisi masyarakat setempat masih dalam keadaan trauma dan masih berada di perbukitan.

Hal senada juga dikatakan Kang Entang (panggilan akrabnya), ada alasan lain mengapa mereka membuka Posko di wilayah ini. Ia mendapatkan kabar dari media sosial serta teman-teman yang katanya di atas sana (perbukitan) ada salah satu warga yang mengungsi di hutan-hutan, mereka kesulitan makanan dan lain sebagainya.

“Saya pertama kali datang di Posko I yang berada di Jiput Caringin, setelah itu kami pindah ke Posko cabang yang berada di Pantai Carita. Terkumpul 40 relawan, kita arahkan untuk pembagian tugas mulai dari evakuasi jenazah serta bantu masyarakat untuk bersih-bersih. Setelah berjalan kita pindah ke Posko II untuk kemudian mendirikan Posko III disini,” jelas Kang Entang.

Kegigihan dan kinerja para relawan HILMI-FPI dalam misi kemanusiaan mendapat apresiasi dari Ketua Umum DPP HILMI-FPI, Habib Ali Al Hamid. Mereka semua ini memiliki jiwa kemanusiaan yang luar biasa tanpa ada komando dari siapapun.

“Seandainyapun tak diperintah, niscaya mereka akan berangkat ke wilayah bencana. Jadi, gak ada istilah perintah kalau sudah bicara kemanusiaan,” tegas Habib Ali Al Hamid, saat menemui para relawan HILMI-FPI di Desa Ujung Jaya, Sumur, Pandeglang-Banten.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Kisah Kegigihan Relawan HILMI-FPI Dalam Misi Kemanusiaan
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram