Serah-terima pembangunan hunian laik bagi warga etnis muslim Rohingya yang menjadi prioritas HILMI-FPI

Ini Alasan HILMI-FPI Terjun ke Pelosok Desa di Rohingya

Hilal Merah Indonesia, ROHINGYA – Ribuan penduduk etnis Muslim Rohingya kini masih menetap di berbagai rumah temporer dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu serta atap yang dilapisi pelepah daun kelapa. Mereka tinggal berhimpitan, sesekali berbaring beralaskan anyaman tirai bambu. Saat hujan melanda, lantai tanah menjadi kobangan lumpur.

Kondisi demikian tak ubahnya seperti yang dirasakan oleh mereka yang masih menetap di camp pengungsian. Mereka kekurangan bahan pangan, kenyamanan, bahkan juga mengalami berbagai masalah kesehatan.

Krisis inilah yang kemudian menjadi persoalan utama Hilal Merah Indonesia (HILMI), salah satu anak organisasi muslim dari Front Pembela Islam (FPI) untuk melakukan aksi kemanusiaan di zona merah tersebut.

Bantuan sosial yang menjadi prioritas HILMI-FPI di wilayah ini adalah pendisitribusian bantuan logistik serta pembangunan hunian laik bagi mereka. Kenapa HILMI-FPI memilih langsung terjun ke berbagai pelosok desa?

Karena memang terjun di desa tersebut lepas dari semua relawan, karena mayoritas relawan masuk ke camp pengungsian. Sehingga HILMI-FPI memilih langsung masuk ke pelosok desa untuk membantu kepada masyarakat yang memang sangat membutuhkan.

Seperti dikabarkan Ustad Chairul, salah seorang relawan Indonesia dari HILMI-FPI yang berhasil menyambangi ke pelosok desa untuk memantau perkembangan penduduk di wilayah tersebut. Menurutnya, masih banyak penduduk dan keluarga yang belum memiliki rumah serta`masih banyak yang tidur dengan beralaskan tenda seadanya.

“Alhamdulillah, kami dari HILMI-FPI sudah bisa berbuat mulia meski baru bisa mendirikan sebanyak 25 rumah. Namun Insya Allah, di tahap berikutnya kita akan kembali membangun rumah-rumah mereka yang manjadi skala prioritas HILMI-FPI,” ungkap Chairul kepada media HILMI-FPI, pada Senin 10 Desember 2018.

Sebelumnya, kata Chairul, rencananya ingin HILMI-FPI ingin membangun rumah panjang. Namun, lantaran tanah di desa ini masih tanah per-keluarga. “Artinya, tanahnya hanya sedikit dan diperuntukkan hanya untuk per-keluarga, jadi tidak bisa kami lakukan, tidak bisa dijadikan satu seperti di camp-camp,” imbuhnya.

Adapun beberapa rumah yang sudah dibangun oleh HILMI-FPI adalah sebanyak 25 rumah. “Ke-25 rumah tersebut sudah kita serahkan pada tanggal 29 November 2018 lalu, termasuk 15 toilet/MCK itu juga sudah kita serahkan semuanya kepada masyakarat Rohingya,” jelas Chairul.

Pembangunan rumah dari HILMI-FPI untuk masyarakat Rohingya, adalah proses pemilihan secara akurat yang ditujukan untuk mereka yang benar-benar tidak memiliki rumah.

“Kita prioritaskan pembangunan rumah buat mereka adalah yang masih tinggal dengan rumah seadanya, yakni hanya tempelan saja. Itupun masih banyak sekali, karena kami memang terjun ke lapangan langsung dengan diantar oleh tim leader di kampung tersebut. Kami lihat bagaimana keadaan mereka, kemudian barulah pendirian rumah itupun ditetapkan,” pungkasnya.

BANTUAN BAHAN PANGAN dari HILMI-FPI

Krisis kemanusiaan yang menimpa penduduk etnis muslim Rohingya, telah membatasi ruang dan gerak kaum Adam untuk bisa menghidupi keluarga mereka. Jadi, uluran tangan dan bantuanlah yang mereka harapkan selama ini.

“Mereka tidak memiliki pekerjaan. Hal itu bukan lantaran malas bekerja, mereka semua tipe pekerja keras. Hanya saja, keterbatasan ruang dan gejolak pemerintah yang memaksa mereka jadi seperti itu, makan dan minum hanya mengharapkan bantuan seadanya,” beber Chairul kepada media HILMI-FPI.

Sementara itu, bantuan logistik yang didistribusikan HILMI-FPI pun sedikit mengalami keterlambatan, karena pemeriksaan sangat ketat sekali. Bantuan yang disalurkan inipun, kata Chairul, masih belum merata.

Bahan pangan yang diterima warga Rohingya masih belum cukup, karena di wilayah ini terdapat ribuan keluarga yang membutuhkan bantuan pangan. Sementara logistik yang diterima hanya 300 paket dengan rincian beras 20kg, serta 9 item sembako lain seperti minyak, kopi, susu, kacang dan sebagainya.

“Kita dari HILMI-FPI membawa bantuan hanya sedikit. Paket sembako yang berjumlah 300 paket untuk satu desa tidak cukup, minimal 2.500 paket. Namun setidaknya inilah bantuan yang bisa dipersembahkan.

“Saya juga ingin menggugah hati seluruh dermawan di Indonesia umumnya untuk bisa menyalurkan sebagian hartanya untuk saudara-saudara kita yang berada disini,” harap Chairul. Rohingya belum ada perubahan apapun. Belum ada sekolah, masih banyak rumah yang belum laik huni, tidak ada handpump serta toilet/MCK.

“Bahkan, ada pula seorang janda yang hidup bersama 3 orang anaknya dengan rumah seadanya, tidak ada dinding, tidur hanya beralaskan tirai bambu. Seperti bangunan saung di pesawahan. Kembali, saya ingin mengetuk saudara muslim se-Indonesia untuk bisa membantu meringankan beban mereka disini,” tuntasnya.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Program Bantuan Rohingya / Ini Alasan HILMI-FPI Terjun ke Pelosok Desa di Rohingya
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram