Lokasi dimana terjadinya longsoran tanah yang mengakibatkan banjir bandang di 3 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya

DPP HILMI-FPI Berencana Bantu Perbaiki Rumah Korban

Hilal Merah Indonesia , Tasikmalaya – Pasca terjadinya bencana tanah longsor disertai banjir bandang yang melanda Tasikmalaya beberapa waktu lalu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hilal Merah Indonesia (HILMI)-Front Pembela Islam (FPI) kemudian menyambangi lokasi yang terdampak paling parah yaitu di Culamega.

Sebagaimana diketahui, Culamega merupakan daerah paling ujung di Kabupaten Tasikmalaya sehingga untuk memasuki wilayah tersebut, harus melewati beberapa bukit dengan medan jalan yang terjal dan berliku.

Selain medan jalan yang dilalui cukup sempit, kondisi badan jalannyapun terlihat rusak parah. Kondisi itu terjadi, karena infrastruktur jalan sepanjang 29 km menuju Culamega dari Darawati, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, mengalami keretakan akibat pergeseran tanah.

Berdasarkan pantauan DPP HILMI-FPI DKI Jakarta bahwa musibah banjir bandang yang melanda 3 Kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yaitu Culamega, Cipatujah, dan Karangnunggal itu disinyalir lantaran gempa bumi yang sempat mengguncang daerah Barat Daya Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Agustus 2018 lalu.

Meski dengan skala kecil yakni berkekuatan 4,3 SR, namun dampak dari gempa tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran tanah sehingga ketika hujan deras mengguyur Tasikmalaya pada 6 November 2018 lalu telah melongsorkan tanah yang berada di beberapa bukit di Kecamatan Culamega.

Kejadian tersebut telah merenggut nyawa lima warga akibat terseret arus sungai yang meluap serta tertimbun longsoran tanah. Bencana ini juga sempat merendam ribuan rumah warga serta merusak infrastruktur daerah.

Kecamatan Culamega merupakan daerah dimana titik longsoran tanah serta banjir yang terparah. Sebelumnya, sejumlah titik masih terisolir dan tidak bisa dilalui kendaraan karena akses jalan yang tertimbun material longsoran.

Namun, dengan kesigapan para relawan HILMI-FPI beserta organisasi kemanusiaan lainnya yang turut membantu para warga membersihkan material lumpur yang menutup akses jalan, kini sudah bisa dilalui oleh kendaraan.

Bahkan, kendaraan berat pengeruk tanah alias Beko sudah bisa menembus wilayah tersebut sehingga material lumpur yang menutupi sebagian jalan kini sudah bisa dilalui oleh semua kendaraan.

Saat ini yang diharapkan oleh warga korban yakni hanya tinggal pemulihan. Mereka menunggu keputusan dari pemerintah, apakah lokasi ini masih layak huni ataupun tidak, masyarakat sedang menunggu jawaban pasti dari pihak pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

Artinya, masyarakat masih bingung lantaran saat ini hanya memiliki tanah sekedarnya, demikian seperti dipaparkan Entang Ahmad Hidayat, salah seorang relawan HILMI-FPI Jawa Barat ini kepada media HILMI-FPI di lokasi bencana, Ahad (25/11/2018).

“Nah, ketika pindah harus pindah kemana. Oleh karena itu, masyarakat datang ke posko HILMI-FPI minta dibantu untuk menjembatani dan menyampaikan kepada pihak pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, bahwa ini nantinya akan seperti apa?,” ungkap Entang.

Jika memang pemerintah melarang untuk kembali bertempat tinggal di wilayah ini, bagaimana solusinya? Apakah akan disediakan tempat lagi untuk bermukim atau bagaimana?. Hingga sekarang masih ada warga dari Kampung Jajawey, Cikondang, dan Babakan Situ, Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega, yang kini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Namun hingga saat ini, kata Entang, belum ada keputusan dari pemerintah terkait masalah tersebut. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang terpuruk. Untuk mendirikan kembali rumah mereka nantinya akan seperti apa?.

Sementara rumah yang masih bisa dihuni, artinya hanya rusak di bagian belakang, masyarakat hanya meminta bantuan berupa terpal untuk menutup sementara rumah bagian belakang.

“Alhamdulillah..dari DPP HILMI-FPI membantu membawakan mesin sedot air serta terpal, Insya Allah masyarakat akan senang dan benar-benar berterimakasih karena itu sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat,” lanjut dia.

Sementara itu, tim relawan kemanusiaan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah membuat Shelter sementara buat masyarakat yang rumahnya luluh-lantak lantaran diterjang lumpur sehingga rata dengan tanah, namun hingga saat ini Shelter tersebut belum juga terselesaikan.

“Rencananya mereka akan tinggal disana sementara sekitar 6 bulan. Sambil menunggu bantuan serta solusi terbaik dari pemerintah,” tukas Entang.

Ketua Umum DPP HILMI-FPI, Habib Ali Husein Al Hamid memutuskan untuk memberikan bantuan material untuk menambal serta memperbaiki rumah-rumah yang terkena banjir.

“Kami mengharapkan data yang akurat mengenai rumah warga yang memang layak dibantu untuk mendapat bantuan material untuk tambal-sulam. Kemungkinan tidak semua warga kita bantu, karena di HILMI-FPI hanya yang benar-benar tidak mampu yang akan kita bantu,” pungkas Habib Ali.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Bedah Rumah / DPP HILMI-FPI Berencana Bantu Perbaiki Rumah Korban
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram