Ketua Koordinator tim Trauma Healing melakukan briefing kepada fasilitator anak

Seluruh Fasilitator Anak Disebar dan Wajib Lapor

Ketua Koordinator tim Trauma Healing HILMI-FPI, Arief septia Prayudha mengatakan, pada awal kunjungan tim pada September 2018 lalu, ada anak-anak yang dikira itu adalah salah seorang korban dari dampak gempa. 

Namun, Yudha menilai ternyata salah, mereka memiliki trauma sebelum gempa itu terjadi. “Terdapat beberapa kasus kekerasan terhadap anak yang berada di Lombok ini,” kata dia. 

Misalkan, ada seorang murid yang telinganya dipukul (kanan-kiri) oleh gurunya. Ada juga murid yang dipukul dengan kayu (semacam balok) sampai menangis. “Kami temukan juga ada anak yang juga mendapat kekerasan dari ayahnya yang kasar bahkan ada pemukulan serta tendangan,” tandas Yudha.

Anak itu nampak begitu ‘celong’ matanya (seperti zombie) gak punya ruh dan semangat lagi. Pada saat tim Trauma Healing HILMI-FPI terjun ke lapangan, lanjutnya, anak tersebut mendekati dan banyak sekali bercerita. 

“Ada sekitar 2-3 jam dia bermain dengan saya,”. “Dia bercerita, ayahnya sering memukul, menedang bahkan ayahnya pernah menendang perut ibunya yang tengah hamil,” sebut Yudha.

Hal inilah yang kemudian membuat tim HILMI-FPI, concern untuk menggelar One Day Private Class Training yang tujuannya untuk membentuk 120 fasilitator anak agar trauma healing serta perlindungan anak bisa bersinergi secara bersamaan.

Di dalam diklat tersebut, juga ada peserta fasilitator anak yang diberikan kompetensi pengetahuan tentang beberapa macam kekerasan pada anak, diantaranya :

1. Kekerasan Fisik (pemukulan, pencubitan, penamparan, penendangan)
2. Kekerasan Seksual (memamerkan aurat pada anak-anak) itu merupakan bagian dari kekerasan seksual atau seorang dewasa yang menyodorkan video porno (konten gambar porno) kepada anak-anak.
3. Kekerasan Psikis (verbal, bulliying, cacian, makian atau ejekan) yang kemudian terespon secara sensorik di psikis anak, itu juga bagian dari kekerasan. 

Nah, 3 hal komponen tersebut sudah disampaikan kepada fasilitator anak. Tentunya, pada saat tim terjun ke lapangan selama 25 hari kerja, belum mendapatkan data yang akurat. 

“Saat inilah, ketika 120 fasilitator anak sudah kami terjunkan ke rumah masing-masing, kami harap kasus-kasus tersebut akan kami temukan dan bisa kami tangani secara langsung, baik dari sisi koordinasi dan lain sebagainya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi langkah pencegahan dan menangani kasus per kasus yang ditemukan di lapangan,” tegas Yudha. 

Namun sejauh ini, untuk kasus yang sifatnya free sex (sex bebas), Yudha belum berani menyebutkan data, termasuk juga pelecehan seksual terhadap anak. 

“Tapi kalau kami lihat berdasarkan pengalaman kami di lapangan, memang benar adanya. Karena pasca bencana, mereka kan tinggal dalam satu tenda. Dimana mereka tinggal bersama-sama, tidur bersama-sama, kasus itu pasti ada. Mudah-mudahan, kita berharap dari semua fasilitator anak bisa memberikan report,” jelasnya.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Seluruh Fasilitator Anak Disebar dan Wajib Lapor
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram