Beberapa Fasilitator Anak sedang diberikan arahan dan bimbingan oleh tim Trauma Healing HILMI-FPI

120 Peserta Diuji Jadi Sayap Juang Trauma Healing Kota Lombok

Aktivitas sosial yang digagas tim Trauma Healing HILMI-FPI lewat tajuk ‘One Day Private Class Training’ kepada para korban gempa di Lombok sudah mencapai puncaknya. Artinya, kini mereka sudah bisa mengaplikasikan semua materi yang sudah diwariskan oleh tim sepanjang September-Oktober 2018.

Dalam kegiatan tersebut, tim Trauma Healing HILMI-FPI memberikan pembelajaran, hiburan serta fasilitas kepada masyarakat khususnya korban bencana Lombok, sehingga mereka dapat berdikari, menjadi pribadi yang mandiri serta tauladan bagi daerah mereka masing-masing. 

Tim Trauma Healing HILMI-FPI terdapat 3 orang, yang memiliki tugas pokok masing-masing untuk membentuk sebanyak 120 Fasilitator Anak. Mereka diantaranya, Erry yang bertugas untuk mengetahui tumbuh kembang anak, perlindungan anak, fasilitator anak. 

Kemudian Yana Rahma yang bertugas memberikan materi mengenai teknik bercerita, salah satunya mendongeng menggunakan boneka Puppet dan boneka tersebut sudah dibagikan kepada seluruh peserta.

Sementara Arief Septia Prayudha merupakan Koordinator tim yang bertugas untuk memberikan kompetensi serta menjabarkan berbagai metode yang akan diajarkan kepada anak-anak. Diantaranya, mengaji, cara bermain, bernyanyi, yang dibutuhkan semua anak-anak.

Arief Septia Prayudha memaparkan, para peserta yang didiklat itu menjadi 3 gelombang. Setiap gelombang terdiri dari 40 peserta yang akan dididik dan dilatih (diklat) selama 2 hari 1 malam di sebuah Villa di daerah Maninting, Kabupaten Lombok Barat. 

Kegiatan ini, menurut Kak Yudha (sapaan akrabnya) sudah berjalan selama 3 gelombang, jadi total peserta seluruhnya berjumlah 120 peserta. Merekalah kemudian yang akan menjadi fasilitator bahkan menjadi pahlawan di wilayah masing-masing.

Tujuan merekrut peserta sebanyak itu, kata Yudha, adalah untuk dijadikan sebagai Fasilitator Anak, mereka akan menjadi ‘pejuang amanah’ dan dikembalikan ke rumahnya masing-masing, untuk melakukan trauma healing secara tidak langsung. Bahkan, mereka akan menjadi pelindung bagi anak-anak.

Fasilitator anak itulah yang akan menjadi salah satu bagian dari putra-putri Lombok itu sendiri. Karena jikalau permasalahan di Lombok ini diserahkan kepada Relawan di luar Lombok, tentu akan sulit karena keterbatasan waktu, SDM dan lain sebagainya. 

“Mereka itu direkrut dari puluhan desa yang berasal dari Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan kota Mataram. Bahkan ada sekitar 2-3 peserta yang datang dari Sumbawa, artinya memang mereka dari Sumbawa dan bermukim di Mataram, dan ini memang ekspansinya cukup luas,” jelas Yudha, saat ditemui Media HILMI-FPI, Senin (22/10/2018). 

Yudha berharap, mereka semua akan menjadi ‘sayap juang’ HILMI-FPI dalam program Trauma Healing. “Jadi ke depannya, kita hanya tinggal mengontrol aktivitas mereka dan Alhamdulillah sudah sepekan ini pasca kegiatan diklat tersebut, mereka sudah memberikan report dan mereka langsung sudah mengimplementasi program yang diberikan di lingkungan mereka masing-masing.

“Mereka (fasilitator) sudah mengumpulkan sebanyak 50 anak, mereka diajak bermain, mewarnai, ada juga yang langsung praktek mendongeng. Karena itu semua merupakan bagian kompeten yang kami tularkan kepada mereka,” imbuhnya. 

Mudah-mudahan ke-120 peserta itu akan menjadi semuanya bergerak massive, bergerak serentak setiap hari, setiap waktu baik harian, mingguan, bahkan bulanan selalu melaporkan dan setiap report yang disetor pada kita, dan mudah-mudahan perkembangannya berjalan dengan baik. 

Seperti sepekan lalu, pada peserta gelombang pertama yang sudah pulang itu sudah mengimplementasi secara langsung ada yang bertemu dengan 50 anak, 40 anak, 30 anak relatif jumlah anak yang mereka temui.

“Nah, jika kita ambil kesimpulan dari 120 fasilitator yang sudah kita lepas ke lapangan, lalu mereka memberikan fasilitasi atau pengajaran terhadap 10 anak saja dalam sehari. Maka sudah dipastikan, 1200 anak akan terlindungi baik, bayangkan jika fasilitator bertemu 50 anak dalam satu hari?, berapa puluh ribu yang terlindungi,” terang Yudha.

Menurutnya, program ini memang belum efisien tapi sudah efektif berjalan. Memang belum maksimal, tapi Yudha berupaya untuk optimal bagaimana ini bisa berjalan terus-menerus. 

“Oleh karenanya, amat sangat bijak, kalau HILMI-FPI kedepannya memprogress mereka untuk menuju tahapan berikutnya. Karena tentu belum cukup basic diklat yang diberikan, harus ada meet up kembali semacam gathering dan lain sebagainya. Dimana semua peserta dari gelombang 1,2 dan 3 dipertemukan dalam satu isu yang berbeda sehingga mereka antusias selain menjadi relawan, menjadi fasilitator anak juga mereka juga akan menjadi agen of change di lingkungannya masing-masing,” paparnya.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Pengobatan Gratis dan Bantuan Medis / 120 Peserta Diuji Jadi Sayap Juang Trauma Healing Kota Lombok
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram