Abah Aan, tim relawan HILMI-FPI sedang menarik pipa dari tebing menuju sumber mata air

Berburu Sumber Kehidupan di Lembah Kematian

Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu pulau yang kaya juga sohor akan hasil komoditi serta bahan pangan seperti buah-buahan, sayur mayur dan rempah-rempah yang kesemuanya itu dapat membantu perekonomian warga setempat.

Tetapi ada beberapa kendala yang dirasakan oleh sebagian warga yang justru hasil pertanian serta perkebunannya mengandalkan sumber kehidupan (air) yang cukup. Sayangnya, beberapa bulan belakangan ini musim hujan tak kunjung datang. Hampir 1 tahun mereka (warga) merindukan turunnya hujan, namun masih belum ada tanda-tanda kemunculannya.

Belum habis ujian tersebut terselesaikan, sudah dihadapkan lagi dengan musibah bencana alam. Gempa bumi itupun berhasil meluluh-lantakkan sebagian pemukiman warga di beberapa wilayah. Hal inilah yang kemudian menurut mereka semakin bertambah penderitaan.

Kabar tersuar, tim Relawan FPI dari berbagai daerah di Indonesia pun serta-merta bergegas menuju lokasi korban bencana. Pergerakan tim Relawan FPI yang cepat tanggap ini mengundang respon dari para donatur.

Berbagai donasi berupa sarana dan prasarana pun telah berhasil diterima oleh seluruh warga korban bencana. Bahkan, keluhan warga akan sumber kehidupan mereka menjadi pembahasan utama tim Relawan FPI.

Proses pencarian mata air tentu bukan hal perkara mudah. Butuh perjuangan serta pengorbanan bahkan ‘nyawa’ yang dipertaruhkan oleh tim Relawan FPI untuk bisa mendapatkan mata air yang dituju. 

Seperti pada kasus perburuan mata air di dusun Bilok Petung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur-Nusa Tenggara Barat. Pasalnya, mereka (para warga) sudah sangat ‘merindukan’ turunnya sumber kehidupan. 

Hal inilah yang menjadi pokok utama bagi tim Relawan FPI untuk memecahkan solusi terbaik bagi para warga. Perburuanpun dimulai. Bersama para warga, tim relawan FPI menelusuri sumber mata air yang sudah pernah didapatkan oleh warga sebelumnya.

Namun sayangnya, pipa sebelumnya sudah tidak bisa digunakan lagi untuk menyalurkan air, lantaran pipa tersebut sudah usang dan rusak akibat tertimpa longsoran batu sehingga memutuskan sumber mata air. 

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hilal Merah Indonesia (HILMI) dengan segera mendatangkan pipa berukuran 1 inchi sebanyak 400 batang untuk mendapatkan mata air. Sementara mulai dari pemukiman warga menuju sumber mata air, harus melewati berbagai tantangan yang dihadapi oleh para Relawan FPI.

Perjalanan menuju sumber mata air ini banyak menghadapi rintangan. Mulai dari terabas hutan, mendaki bukit yang curam, menuruni lembah yang terjal dan berbatu yang dihiasi oleh longsoran tanah yang jika saja salah memijak, sudah pasti tergelincir ke dasar jurang dan inilah pertarungan hidup dan mati tim relawan FPI.

Teriakan takbir terus-menerus dikumandangkan oleh para tim relawan untuk dapat mengusir rasa takut dan ragu sepanjang perjalanan. Mungkin bagi para warga setempat, jalur ini sudah biasa dilalui mereka. Tapi bagi kebanyakan para tim, trek ini merupakan tantangan perdana yang mau tak mau harus mereka hadapi.

“Cukup memacu adrenalin kita memang. Perjalanan kami para tim relawan HILMI-FPI masih belum terpuaskan sebelum mata air yang dituju ditemukan. Karena pipa-pipa ini harus bisa sampai ke mata air, itu tugas kita selaku relawan. Pipa-pipa yang berjumlah 400 batang ini mesti disambung-sambung hingga sampai menuju ke pemukiman warga,” ungkap Abah Aan, salah seorang relawan senior FPI.

Pria paruh baya asal Garut ini mengaku sudah ‘makan asam-garam’ dalam menghadapi tantangan seperti ini. Bahkan sebelumnya, kata Abah (begitu sapaan akrabnya), rintangan di desa Akar-Akar lebih parah lagi. Tapi kini, semuanya sudah dapat terselesaikan dengan baik dan air untuk desa tersebut sudah bisa dinikmati oleh warga.

“Alhamdulillah, kini kami tim relawan HILMI-FPI beserta warga sudah bisa menuju sumber mata air yang dibutuhkan. Penyambungan pipa juga sudah kami lakukan, meski harus menghadapi berbagai tantangan. Kini air tersebut sudah sampai ke desa Blok Petung, hanya saja butuh mesin untuk bisa menyedot air yang mungkin tersendat. Tapi, yang paling penting penyambungan pipa dari sumber mata air kini sudah sampai ke warga,” kata Abah.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Berburu Sumber Kehidupan di Lembah Kematian
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram