Pasca musibah gempa yang terjadi hingga saat ini sudah hampir mencapai 3 bulan, sepintas lalu rasa trauma yang diderita sudah berangsur-angsur pulih

Konseling Trauma Healing Buahkan Hasil Positif

Hilal Merah Indonesia, NTB – Konseling trauma healing tahap akhir yang dilakukan oleh tim Psikolog HILMI-FPI di dua sekolah berbeda baik kepada guru-guru dan orang tua yang mengalami korban gempa di Lombok sudah mengalami perkembangan yang cukup baik.

Sejauh ini banyak sudah ilmu serta pembelajaran yang mereka serap lewat penjelasan teori serta praktik di lapangan, baik melalui simulasi game maupun konsultasi khusus yang diberikan oleh tim psikolog HILMI-FPI. 

Dalam konseling tersebut, pertanyaan melebar tidak hanya soal Trauma Bencana. Namun juga pembahasan serta pemahaman masalah pribadi yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangganya, hingga masalah remaja terutama soal remaja yang dianggap oleh para guru ‘bermasalah’. 

Seperti diungkapkan oleh Dra. Mira Seba, Ketua Koordinator Bidang Psikolog HILMI-FPI saat ditemui media HILMI di Lombok-NTB, Jumat sore (19/10/2018). Menurut Mira, trauma itu  merupakan kondisi emosional atas kejadian luar biasa yang dialami oleh seseorang. 

“Kami menilai bahwa anak-anak remaja yang rentang usianya berkisar 16 tahun ke bawah, tidak terlalu terganggu atau terpengaruh lagi. Mereka sepertinya memiliki ‘kesibukan’ sendiri, mereka memang menunjukkan rasa  takut, panik pada saat kejadian, tapi itu cepat sekali hilang,” terangnya. 

Meski demikian, kata Mira, tetap saja harus ‘diperiksa’ kembali kondisi emosinya, karena bila ada trauma dan itu tidak selesai di anak-anak maka bisa berbahaya ketika mereka dewasa.

“Program ‘penyembuhan’ mental yang kami lakukan terhadap anak-anak korban gempa Lombok Utara adalah dengan diberikan simulasi games. Setiap games yang diberikan ada tujuan yang ingin kami lihat. Kemampuan mengendalikan diri, kepedulian pada sesama, kerja sama, spontanitas, kepercayaan diri dapat terungkap dari games tersebut. Dan itu sulit dilakukan dalam keadaan trauma. Alhamdulillah mereka dengan cepat menunjukkan kemampuan seperti yang disebut kan itu,” jelas Mira.

Memang ada pula yang tidak berhasil. Tapi menurutnya, itu bukan karena trauma tapi karena memang kondisi emosional remaja yang sedang ‘bandel-bandelnya’, yang sedang ingin mencari jati diri. Mereka seringkali mengambil tindakan sendiri, gak mau nurut, pasif, takut, dan kurang PD (percaya diri). 

“Tetapi ketika saya tanyakan pada guru-guru, ternyata kondisi itu terjadi sebelum gempa bukan benar-benar karena trauma akibat gempa, karakter mereka memang sudah begitu,” ungkap Mira. Meski demikian, para tim meminta semua guru agar memberikan pendekatan secara pribadi, memperhatikannya agar tidak semakin berat sikap pasif dan kurang percaya dirinya.

Sementara untuk orangtua, tim menduga lantaran mereka memiliki banyak peran yang harus dijalankan sebagai orang tua, sebagai guru atau bahkan sebagai tokoh masyarakat. Sehingga mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi traumatis. 

“Tetapi justru kita tetap memilih Guru di tahap awal untuk menjadi Trauma Healer. Karena mereka selama ini memang bekerja mendidik, membantu mengatasi masalah, merawat anak-anak didiknya. Sehingga secara mental, mereka sudah siap menjadi ‘Trauma healers’. Kelak kedepannya, yang bakal membantu menyembuhkan anak-anak serta tetangga ataupun familinya, ya guru-guru ini. Mereka bakal menjadi ‘agent’ perubahan dari sisi psikologis juga,” tegasnya.

“Kebutulan pada hari Kamis (18/10/2018) lalu, gempa susulan kembali terjadi. Kami melihat secara langsung anak-anak sempat histeris, kantaran ketakutan akan tetapi dalam waktu sekejap mereka kembali tertawa, dan gembira dengan keputusan sekolah mengizinkan untuk pulang segera,” kata Mira.

Dra. Ani Sunarni juga menambahkan, dengan dipulangkannya dari sekolah, anak-anak itu langsung happy. Memang ketika ada kejadian, mereka panik dan takut tapi hanya sementara. “Setelah itu, mereka sudah lupa dan langsung ketawa-ketiwi. Mereka hanya takut sesuatu reruntuhan akan menimpa kepala mereka, hanya itu,” kata Mira.

Menurut Ani, ada yang namanya Gangguan Stress Pasca Trauma. Hal itu bakal muncul setelah 3-4 bulan kemudian. “Setelah berjalan dengan normal, mereka baru menyadari bahwa ada yang hilang pada diri mereka, karena mungkin pada awal kejadian (gempa) mereka sibuk menyelamatkan korban, dan ketika dalam kondisi sudah ‘normal’ kembali baru lah terasa ada ada yang ‘hilang’  barulah muncul kesedihan, merindukan keluarga yang meninggal karena gempa tersebut dari yang mereka alami,” ungkap Ani. 

Karena itu perasaan trauma bisa kembali muncul dan bila ‘parah’ mereka dapat mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorders ). “Itulah mengapa pendampingan ‘penyembuhan akibat trauma’ ini tidak bisa sebentar,” tegas Ani.

Para tim psikolog menyadari hal itu, maka meskipun kelak para tim meninggalkan Lombok, namun mereka tetap membuka komunikasi dan konseling melalui telepon dan whatsapp. 

“Bahkan bila perlu, kami Insya Allah akan kembali ke Lombok beberapa bulan kedepan-guna memantau situasi dan kondisinya serta untuk evaluasi dan ‘sharing’ pengalaman serta keilmuan kami,” tuntasnya.

Artikel Lainnya :

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Pengobatan Gratis dan Bantuan Medis / Konseling Trauma Healing Buahkan Hasil Positif
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram