Tim Psikolog HILMI-FPI sebut Kelas 8 dan 9 tingkat Kesadarannya Lebih Tinggi

Aksi Trauma Healing terhadap ratusan siswa dan siswi SMPN 1 Bayan Lombok Utara berlanjut. Setidaknya 118 pelajar terbagi dalam 2 kelompok dan 2 sesi permainan. Kelompok pertama adalah siswa dan siswi kelas 7, terdiri dari 58 orang. Kelompok kedua adalah siswa dan siswi kelas 9, yang terdiri dari 60 orang. 

Mereka kemudian dikumpulkan di suatu halaman sekolah untuk melakukan simulasi game. Tim relawan psikolog HILMI-FPI, Yuyun dibantu oleh Hanif, seorang guru dan laskar ikhwan. 

“Tujuan simulasi games ini adalah membentuk kemampuan’leadership’, bekerja dan berbuat sesuai aturan, belajar bersinergis dan juga memiliki kepercayaan diri (trust) terhadap lingkungan sosial,” jelas Mira Seba, salah seorang tim Psikolog HILMI-FPI.

Meski siswa dan siswi kelas 7 (usia lebih muda), katanya, cenderung lebih pasif dan butuh penyesuaian diri lebih lama. “Namun secara umum, semua peserta berpartisipasi dengan baik. Semoga efeknya terhadap kondisi emosionalnya pun juga baik,” ungkapnya.

Di hari berikutnya yaitu Senin, 9 Oktober 2018, aksi Trauma Healing pun berlanjut. Kali ini, kelas 8 yang terdiri dari 49 siswa ini melakukan hal yang sama yaitu mengikuti simulasi game di tahap 1. Sementara untuk kelas 7, akan menuntaskan kegiatan Trauma Healing di tahap berikutnya. 

Bagi siswa kelas 8, simulasi game yang diberikan untuk membentuk kemampuan memberikan empati, ‘leadership’, bekerja dan berbuat sesuai aturan, belajar bersinergis dan ‘trust’ terhadap lingkungan sosial. Sementara kelas 7, simulasi games untuk membentuk konsentrasi, berfikir analistis, problem solving, dan pengendalian diri.

Melalui observasi, proses kegiatan di kelas 7 meski usianya lebih muda dibandingkan kelas 8 namun jauh lebih mudah dan berjalan lancar. Hal ini dapat diduga sudah terjadi pencairan emosi diantara mereka. Relatif sudah terbentuk ‘trust’ diantara mereka sehingga kerja sama jauh lebih mudah, lebih cepat dan efektif.

“Sangat menarik melihat perkembangan perubahan yang terjadi pada siswa dan siswa kelas 8 dan kelas 9. Dari sudut usia mereka memang lebih tua dibandingkan kelas 7 sehingga ‘kesadaran’-nya tampak lebih tinggi,” ungkap Mira. 

Karena itu, lanjutnya, ice breaking dapat cepat dilaksanakan. Keterbukaan dan saling perhatian terhadap sesama anggota kelompok lebih tinggi hal ini memudahkan mereka dalam bekerja sama memecahkan masalah.

Terlebih ketika memasuki program kompetisi, semua bersungguh-sungguh untuk memenangkan kelompoknya. Sudah terlihat adanya perdebatan, diskusi dalam membuat suatu strategi dan mengambil keputusan (problem solving).  

“Tanpa mereka sadari muncul seseorang yang mengambil alih peran leader bahkan ada yang mengganti leadernya. Akhirnya team work nyata sekali terlihat. Melalui games yang bersifat pribadi masing-masing siswa menunjukkan antusias yang tinggi. Semua berani mengeluarkan pendapat dan suaranya,” papar Mira. 

Maka secara umum, terlihat perubahan perkembangan yang sangat baik. Beberapa siswa yang awalnya sangat pasif, enggan terlibat dalam kegiatan bahkan ‘menghilang’ ketika kegiatan kelompok akhirnya menjadi siswa yang paling semangat dan mengambil peran aktif dalam kelompoknya.

Akhirnya tidak ada awal tanpa akhir, tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Ketika tim relawan mengemukakan bahwa proses ‘trauma healing’ sudah berakhir mereka tetap bergerombol dan mengelilingi tim relawan seolah tak ingin berhenti. 

“Tetapi kami melihat keceriaan dan ‘kedekatan’ diantara mereka. Sambil tertawa dan saling bergandengan mereka pun pamit kepada relawan Yuyun, Laskar Ikhwan Hanif dan abah Ramli, dan insya Allah pemulihan emosinya bertambah baik doa kami selalu,” pungkas Mira.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Pengobatan Gratis dan Bantuan Medis / Tim Psikolog HILMI-FPI sebut Kelas 8 dan 9 tingkat Kesadarannya Lebih Tinggi
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram