Dra. Mira Seba : Jauhi Sikap Apatis dalam Bersosialisasi

Rangkaian aktifitas trauma healing HILMI FPI memasuki minggu kedua di bulan Oktober, kali ini kegiatan bertolak ke SMPN 2 Bayan. Pesertanya meruapakan para pengajar yang berjumlah 22 orang. Sama seperti pelajar sebelumnya, merekapun diberikan simulasi game oleh Yuyun, salah satu tim relawan psikolog HILMI-FPI.

Secara umum aktifitas trauma healing di SMPN 2 Bayan tidak terlalu lancar bila dibandingkan dengan SMPN 1. Butuh waktu lebih lama untuk mencairkan suasana dan membentuk kepercayaan diri (trust) diantara mereka. Meski diakhir kegiatan, semua peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Diakui oleh para guru, bahwa mereka pada umumnya masih dihantui rasa trauma yang mendalam. Bahkan, kepala sekolah pun masih belum mengijinkan beberapa muridnya belajar di kelas, lantaran khawatir akan kembali terjadi gempa susulan meski kelas tersebut masih layak digunakan.

“Pelaksanaan trauma healing di SMPN 2 Bayan ini dilaksanakan selama 3 hari karena diikuti oleh semua siswa. Kelas 7 diikuti oleh 92 siswa. Kelas 8 sebanyak 121 siswa dan kelas 9 sebanyak 102 siswa,” terang Mira Seba, tim Psikolog HILMI-FPI.

Kelas 7 dilaksanakan pada dihari Sabtu, 13 Oktober 2018, kelas 8 pada Hari Senin, 15 Oktober 2018 dan kelas 9 pelaksanaanya pada Hari Selasa, 16 Oktober 2018. Sementara semua aktifitas itu simulasi game dipimpin oleh relawan Yuyun dibantu oleh Ani Sunarni dan Laskar Ikhwan Hanif. 

Bila dibandingkan antar level kelas, kata Mira, maka justru jelas 7-lah yang paling berhasil menjalani semua aktifitas simulasi dengan hasil akhir yang sangat memuaskan. Sebaliknya kelas 8 adalah kelas yang paling tidak memuaskan. Kelas 9 sebagian siswa memuaskan namun sebagian lagi tidak.

Semua mengikuti simulasi games yang sama. Sejak awal, antusiasme mengikuti program ini tampak sangat tinggi pada anak-anak kelas 7 dibandingkan kelas 8 dan 9. Karena itu kesediaan diri untuk mendengarkan, mengikuti serta mematuhi perintah dari luar juga tinggi. Maka untuk selanjutnya, semua aktifitas bisa diselesaikan dengan hasil yang memuaskan.

Menurut Mira, kelas 8 dan sebagian dari kelas 9 menunjukkan sikap apatis serta asik dengan aktifitasnya sendiri sehingga butuh waktu lama untuk saling menyesuaikan diri, sulit untuk saling memberikan perhatian dan saling mendukung. Karena itu pula mereka tidak berhasil menyelesaikan masalah bersama.

“Dari tinjauan ilmu psikologi, usia anak-anak kelas 7 relatif masih muda dan cenderung lebih polos, bahkan lebih menunjukkan rasa takut untuk berbuat ‘nakal’,” kata Mira. Sebaliknya, sikap patuh dan keluguan pola pikirnya yang tidak berprasangka dalam menerima hal-hal dari luar memudahkan dirinya menerima masukan atau arahan dan berhasil menyelesaikan masalah bersama.

Kelas 8 dan kelas 9 relatif sudah lebih besar. Sudah lebih banyak keinginan dan harapan. Secara emosional kondisinya lebih bergejolak. Pencarian identitas dan peranan kelompok sudah lebih kuat sehingga kepedulian pada individu lain menjadi berkurang. 

Keterbukaan pada lingkungan di luar kelompoknya juga berkurang. Kondisi ini berpotensi menghambat kerja sama dengan individu lain yang bukan kelompoknya dan butuh waktu lebih lama menyelesaikan masalah yang membutuhkan kerja sama yang efektif.

“Dapat disimpulkan, bahwa karakter kelas 7, pengendalian diri dan secara umum kematangan serta kepribadian dari kelas 9 dapat membantu menyelesaikan masalah dengan lebih cepat dan lebih efektif,” kata Mira.

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Pengobatan Gratis dan Bantuan Medis / Dra. Mira Seba : Jauhi Sikap Apatis dalam Bersosialisasi
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram