Relawan FPI Bertekad Asuh Anak Yatim Korban Gempa Lombok

Kawasan bencana adalah ladang pahala untuk menabur segala kebaikan di dalamnya. Hal inilah yang mungkin disadari oleh Ustadz Mukhlis, Wakabid Da’wah dan Bendahara DPW FPI Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang juga turut terjun langsung ke lokasi bencana bersama Relawan HILMI-FPI lainnya.

Termasuk upaya menyambangi salah satu seorang anak yatim bernama Iren (2,5 th) yang berada di Dusun Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Yang harus rela ditinggal pergi ibu berserta kakaknya yang turut menjadi korban saat gempa terjadi.

Berbekal motor trail, usai menunaikan shalat Jumat (31/8) kemarin, Ustadz Mukhlis meluncur ke lokasi. Siang yang terik itu, seolah melebur bersama bayang-bayang kengerian yang terlintas, saat melintasi rumah-rumah penduduk yang hancur akibat guncangan gempa berkekuatan 7 skala richter, yang terjadi 5 Agustus 2018 lalu. Di mana Dusun Rempek merupakan salah satu kawasan yang terdampak cukup parah akibat gempa.

Saat tiba, Ustadz Mukhlis disambut dengan keadaan tenda darurat yang sangat sederhana, di mana Iren bocah malang tersebut tinggal sementara berlindung. Di situ pula Ustadz Mukhlis bertemu kakek Iren yang telah sangat renta, satu-satunya pihak keluarga yang tersisa.

Dengan terbata-bata sang kakek sempat menceritakan kronologis yang terjadi. Matanya sempat menitikkan air mata kala cerita sampai pada bagimana kematian sang bunda berserta kakaknya wafat dalam peristiwa itu.

Diketahui berkat cerita sang kakek, rupanya Iren selamat dari peristiwa tragis itu berkat upaya sang bunda melindunginya dalam pelukan dari reruntuhan gempa. Namun malang bagi Ibu berserta kakaknya, akhirnya wafat seketika saat itu, tertimpa reruntuhan rumahnya. Diceritakan, ayahanda Iren sendiri telah wafat setahun yang lalu, karena sakit.

Seketika suasana hening. Rasa haru merambat. Termasuk merasuk ke beberapa tetangga yang turut mendengar kisah itu.

Dari salah satu tetangga, seorang Ibu berusaha menenangkan Iren yang seringkali menangis tiba-tiba. Matanya nanar, batinnya seolah ingin mengabarkan kesendiriannya kini. Ustadz Mukhlis juga turut menenangkan, seraya berdoa guna memberi ketabahan pada bocah tersebut.

Ustadz Mukhlis turut merasakan kepedihan itu. Beliau mengatakan, tak dapat membayangkan suasana batin Iren, yang sebegitu belia harus hidup sendiri di lokasi penampungan.

Terdorong rasa itu, Ustadz Mukhlis sempat meminta ijin kepada kakeknya, agar Iren dapat diboyong ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur, untuk diasuh serta dididik dengan selayaknya.

Permintaan itu ditolak sang kakek, dengan alasan yang cukup dimaklumi Ustadz Mukhlis.

Ustadz Mukhlish juga mengungkapkan, sudah tiga kali berusaha melakukan itu kepada anak-anak yatim lain yang menjadi korban gempa. Namun upaya itu belum berhasil. Dengan singkat beliau mengatakan, “Belum saatnya Allah menginjinkan.”

Di akhir kunjungan, tiba-tiba secara refleks tangan Ustadz Mukhlis merogoh saku celananya. Kemudian diserahkannya beberapa lembar rupiah sebagai bentuk santunan kepada Iren. Yang kemudian uang tersebut diserahkan kepada sang kakek sebagai perwakilan.

Seraya beliau juga menyampaikan permohonan maaf, apabila dirasa kurang sopan memberikan uang. Dikarenakan tidak membawa bantuan dalam bentuk lain.

Kepada Media HILMI, Ustadz Mukhlis juga mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW, “Sebaik-baik rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim.” Untuk itu saya tiba di sini. Ujarnya menutup pembicaraan.

Perlu diketahui pula kepada pembaca Media HILMI yang berbudiman, dalam upaya memberikan perhatian kepada Iren, Tim Relawan HILMI-FPI juga tengah berupaya membangunkan rumah baru sebagai pengganti rumahnya yang telah hancur diguncang gempa. Yang prosesnya sampai saat ini terus berlangsung. (RG)

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Aksi Kemanusiaan / Relawan FPI Bertekad Asuh Anak Yatim Korban Gempa Lombok
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram