HILMI-FPI Bantu Budha di Rakhine, Myanmar

Hilal Merah Indonesia – Khitamuhu mesek. Demikian ungkapan bahasa  Arab yang artinya, “Akhir sesuatu itu minyak kasturi.” Ungkapan ini sangat tepat untuk Hilal Merah Indonesia (HILMI) FPI di penghujung aktivitasnya di tahun 2017 yang memberangkatkan tim terbaiknya untuk membantu kaum tertindas muslim Rohingya di Myanmar.

Tepat pada tanggal 30 Desember 2017 saat banyak orang menyiapkan diri untuk pesta tahun baru, tim HILMI memilih misi kemanusiaan menyalurkan bantuan ke kaum tertindas Rohingya. Sekitar pukul 09.00, Choirul RS dan Ustadz Sugianto bertolak ke Myanmar dari Bandara Soetta. Setiba di Yangon, tim HILMI masih harus melanjutkan perjalanan ke Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine. Sekitar  pukul 18.30, tim HILMI tiba Sittwe  yang dahulu kota pelabuhan Myanmar ini  dikenal dengan nama Akyab.

Hujan lebat menyambut kedatangan tim relawan HILMI saat tiba bandara Sittwe. Ternyata penjemput belum kunjung tiba. Sempat sedikit khawatir, tapi tak lama kemudian sekitar 10 menit,NJ seorang Buhdis Miyanmar, muncul di bandara dan kemudian menghantar tim relawan ke tempat penginapan untuk bermalam di kota yang berpenduduk sekitar 181 ribu orang. Sengaja tim relawan memilih kota yang terletak di mulut sungai dekat pesisir yang merupakan titik pertemuan Sungai Kaladan, Myu dan Lemyo, di barat Myanmar, untuk transit, karena kota itu terdekat untuk  mendistribusikan amanat ummat dan rakyat Indonesia hingga ke tangan langsung kaum tertindas Rohingya. Dari tempat penginapan hanya butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk sampai pada titik-titik target distribusi bantuan kemanusiaan.

Setelah beristirahat semalam di Sittwe, tim HILMI setelah sholat subuh berjamaah langsung bergerak menuju desa-desa kaum tertindas yang akan menjadi target distribusi bantuan rakyat Indonesia. Pagi yang penuh semangat dan ceria meliputi tim HILMI. Misi kemanusiaan tinggal sejengkal lagi segera ditunaikan sampai pada kaum yang berhak. Sebuah kebahagiaan tersendiri ketika tim HILMI mampu menyampaikan amanat. Akhirnya setelah perjalanan sekitar 1 jam 30 menit di awal tahun 2018, tim HILMI tiba di desa pertama kaum tertindas muslim Rohingya. Mereka begitu tampak bahagia saat melihat tim HILMI tiba dan berada di desa  U Yin Thar. Wajah muram warga desa U Yin Thar  tiba-tiba berubah ceria meski wajah mereka tetap tampak pucat. Tim HILMI tanpa harus menunggu lama, langsung membagi paket bantuan kepada warga. Alhamdulillah,  ada sekitar 716 paket dibagikan di dua desa sekalius, U Yin Thar dan Mureedal yang keduanya adalah desa muslim Rohingya.

Tim HILMI kemudian melangkah ke desa selanjutnya, Thae Chaung Than. Di desa itu, tim relawan membagi 53 paket. Tim  masih terus bergerak ke desa muslim tertindas lainnya, Dar Paing Camp, dan membagi 86 paket. Ternyata HILMI bukan hanya membantu warga muslim saja tapi juga mendistribusikan bantuan kepada warga Budha di desa Zaw Buja. Kondisi masyarakat Budha di desa itu sangat miris. Sebagaimana amanat kemanusiaan HILMI yang digariskan Imam Besar Habib Rizieq Shahab, tim kemanusiaan yang dibentuk FPI tidak boleh pandang bulu dalam memberikan bantuan. Habib Rizieq Shahab kepada tim HILMI pernah menegaskan, “Siapa saja dengan latar belakang apapun baik muslim maupun non muslim yang memerlukan bantuan maka wajib dibantu.” Tim relawan pun memutuskan untuk mendistribusikan paket bantuan kepada masyarakat yang beragama Budha di desa Zaw Buja. Ada sekitar 91 paket ditebar di desa Zaw Buja.

Alhamdulillah  pada awal tahun 2018, tim HILMI berhasil membagikan 944 paket yang masing-masing berisikan Beras 20 kg, Minyak kelapa, Mentega, Mie, Terigu, Lauk kaleng, Sarung , Kacang dan Susu. Misi kemanusiaan tahap pertama berjalan dengan sukses. Bahkan Tim HILMI mendistribusikan dengan leluasa tanpa pemeriksaan dan kecurigaan pemerintah setempat karena FPI melalui HILMI mendapat kepercayaan dari pemerintah Propinsi Sittwe sehingga tim relawan mengantongi izin resmi untuk beraktivitas.

Pada hari kedua, 2 Januari 2018, setelah sholat subuh, tim HILMI kembali membawa misi kemanusiaan menuju desa kaum tertindas Rohingya. Desa yang tim datangi kali ini jauh sekali, bahkan tim harus lewat akses sawah dan ladang. Tim relawan pun harus menggunakan mobil double gardan untuk menuju desa Daur Myaung. Tim tiba di desa tersebut sekitar pukul 11.00 waktu Myanmar. Perjalanan berjam-jam yang cukup melelahkan. Apalagi akses jalan menuju desa tersebut tak rata. Alhamdulillah, tim relawan HILMI berhasil mendistribusikan  367 paket di desa Daur Myaung. Penduduk di desa ini  bekerja sebagai petani. Hanya bertani pilihan pekerjaan  satu-satunya masyarakat setempat. Penduduk setempat juga dilarang ke kota. Tidak ada sekolah di desa ini. Masjid juga tidak ada karena dilarang. Desa ini terisolasi, tapi alhamdulillah, HILMI mampu menembusnya.

Masih pada hari kedua tahun 2018, HILMI membagikan paket sebanyak 212 di dua desa muslim Paing North dan Say Oo. Tanpa sengaja, tim membagi paket persis di angka 212 yang merupakan angka keramat bagi pejuang keadilan di Indonesia mengenang Aksi 212 menggulingkan kekuatan zalim di bawah pimpinan Imam Besar Habib Rizieq Shahab. Di desa selanjutnya, tim utusan rakyat Indonesia melalui HILMI kembali membagikan bantuan ke masyarakat Budha dan menunjukkan solidaritas ummat Islam kepada siapapun yang membutuhkannya tanpa harus melihat latar belakang agama. Habib Rizieq Shahab pernah mengatakan, “Misi kemanusiaan itu lintas agama.”

Tidak hanya satu desa Budha yang mendapat bantuan tim relawan HILMI. Di desa berikutnya, tepatnya di Thai Chaung, tim relawan muslim membagikan 194 paket kepada masyarakat Budha. Ternyata di desa ini ada dua blok, bagian muslim dan bagian budha. Di blok muslim, tim membagi 320 paket. Alhamdulillah, tim relawan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat dua blok yang berbeda agama.  

Tim HILMI kembali melanjutkan misi kemanusiaannya pada hari kedua di desa muslim, Ohn Daw Shay. Di desa tersebut, tim membagi 130 paket. Dengan demikian, tim relawan HILMI FPI pada hari kedua tahun 2018 berhasil mendistribusikan bantuan kepada kaum tertindas baik muslim maupun budha di Provinsi Sittwe sebanyak 1.281 paket yang berisikan Beras 20 kg, Minyak kelapa, Mentega, Mie, Terigu, Lauk kaleng, Sarung , Kacang dan Susu. Sebuah kelegaan tersendiri amanat dapat tersampaikan langsung ke tangan kaum tertindas Myanmar. Sebagaimana amanat HILMI FPI, bantuan harus disampaikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan. “Penerimaan harus disaksikan langsung oleh tim relawan, ” demikian kata Ketua Umum Ustadz Sobri Lubis S.Pdi saat menekankan urgensi distribusi dengan prosedur yang benar dan sesuai amanat.

Pada hari ketiga tahun 2018,  tim relawan HILMI diundang kepala otorita atau walikota Sittwe pada pukul  08.00 di kantornya. Tepat waktu sesuai rencana, tim relawan HILMI berada di kantor walikota Sittwe.  Saat dipersilahkan masuk, tim relawan HILMI ternyata sudah ditunggu Walikota Su Kyaw Min. Setelah bercengkerama ringan, tim relawan yang terdiri dari personel Ustadz Sugianto, Choirul RS serta perwakilan kita disana memulai rapat dan melaporkan hasil perjalanan kepada Pak Walikota. Pertama-tama, tim relawan mengucapkan banyak terima kasih kepada Walikota Sittwe yang memberikan izin secara resmi kepada HILMI untuk masuk daerah yang bisa jadi terlarang oleh otorita. Untuk itu, HILMI sangat mengapresiasi kepercayaan Pak Walikota kepada timnya yang pada akhirnya bisa menunaikan tugas dengan baik. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, HILMI mengundang Pak Walikota Sittwe untuk berkunjung ke Indonesia. Dalam kesempatan itu, Pak Walikota menyatakan keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia, bahkan beliau akan hubungi HILMI bila berkunjung ke Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, HILMI kepada Pak Walikota Sittwe mengutarakan  sejumlah keinginan guna menyempurnakan misi kemanusiaan ke depan. Di  antara keinginan tersebut adalah membangun sumur, sekolah dan masjid. Terkait masjid, Walikota Sittwe langsung menolak karena menurutnya pembangunan masjid dikategorikan sebagai misi keagamaan bukan kemanusiaan. Tim HILMI pun bisa mengerti soal kebijakan larangan pembangunan masjid tapi Walikota Switte menyambut terkait pembangunan sekolah dan sumur yang digagas HILMI. Dalam kesempatan  itu, HILMI juga menyampaikan bahwa bantuan juga bukan saja sampai pada ummat Islam tapi juga masyarakat Budha. Mendengar itikad baik tim relawan HILMI sebagai pejuang kemanusiaan, Walikota Sittwe menyambut baik dan mengharapkan kerjasama dengan HILMI tetap berlangsung.

Akhir kalam, HILMI menghimbau muslim Indonesia menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu muslim Rohingnya, seperti yang dipantau di lapangan bahwa muslimin Rohingya membutuhkan bangunan gedung sekolah  dan sumur. Sebagaimana amanat Imam Besar Habib Rizieq Shahab dalam pertemuannya  belum lama ini dengan Ketua Hilal Merah Indonesia (HILMI), Habib Ali Alhamid, di Mekkah, kaum tertindas muslim Rohingya harus menjadi perhatian dan fokus tersendiri bagi HILMI.(AR/HILMI)

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Program Bantuan Rohingya / HILMI-FPI Bantu Budha di Rakhine, Myanmar
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram

Comments are closed.