Derita Galih, Anak yang Harus Diamputasi

Hilal Merah Indonesia – Ketika takdir datang, tidak ada satu pun yang bisa menolaknya. Mungkin ungkapan ini sangat tepat untuk Galih, seorang anak umur 8 tahun asal Majalengka yang harus menghadapi petaka yang bermula dari kecelakaan ringan jatuh dari sepeda, dan kemudian berakibat pada sakitnya paha di sebelah kiri.

Galih yang hidup berdua bersama ibunya yang berstatus cerai dengan sang ayah, sengaja menyembunyikan kejadian tersebut dan ia pun tetap bersekolah seperti biasa seakan tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Namun paha sebelah kiri kian membengkak.

Bengkaknya pun tak bisa ditutupi lagi. Sang ibu akhirnya tahu dan segera membawanya ke tukang urut kampung setempat dengan harapan bisa ditangani langsung. Upaya itu pun gagal dan paha kiri Galih kian membesar karena bengkak.

Melihat kondisi semakin parah, sang ibu akhirnya mengambil inisiatif untuk membawa Galih ke rumah sakit setempat. Hasil pemeriksaan rumah sakit  begitu mengejutkan.

Rumah Sakit Majalengka menyatakan patah tulang, dan patahannya sudah menusuk daging. Yang lebih mengejutkan lagi, ada kanker tulang akibat patahan tulang yang menusuk daging. Informasi hasil medis itu spontan membuat miris keluarga Galih.

Terlebih pihak rumah sakit Majalengka menyatakan tidak bisa menangani kondisi anak yang baru duduk di kelas 2 SD. Rumah sakit merekomendasikan Galih supaya ditangani di rumah sakit Cipto Mangunkusuma atau rumah sakit Persahabatan yang masing-masing terletak di Jakarta, relatif jauh dari tempat domisili mereka di Majalengka.

Mendengar pernyataan rumah sakit Majalengka tersebut, keluarga memutuskan memboyong Galih ke rumah kakeknya di Bekasi sehingga lebih mudah dan lebih dekat untuk membawa Galih ke rumah sakit yang direkomendasikan.

Kakek Galih yang sehari-harinya bekerja sebagai  supir truk kontainer di Tanjung Priok membawa Galih ke rumah sakit Persahabatan . Di rumah sakit tersebut, Galih  harus dirawat inap hingga 10 hari. Dari hasil perawatan dan pemantauan para dokter, Galih diputuskan harus diamputasi.

Menurut dokter, pembengkakan di paha kiri Galih kian parah bahkan sudah membusuk. Keluarga tidak langsung memutuskan untuk menerima keputusan amputasi tersebut. Tentu pertimbangan keluarga adalah mental Galih dan masa depannya yang masih panjang.

Untuk itu, keluarga memutuskan untuk mencari pengobatan alternatif dengan harapan bahwa Galih bisa disembuhkan tanpa harus melalui amputasi.

Rumah sakit juga mengizinkan upaya keluarga untuk mencari alternatif penanganan. Galih pun dibawa pulang ke rumah kakeknya di Bekasi, tepatnya di gang Zivit,  Jatirangga,  Jatisampurna.

Di rumah kakek itulah informasi Galih yang membutuhkan pertolongan tersebar di seluruh tetangga. Masyarakat sekitar dari majelis taklim hingga pesantren sekitar begitu peduli pada Galih.

Bahkan di antara mereka banyak yang menawarkan pengobatan alternatif sesuai harapan keluarga untuk menghindari upaya amputasi yang disarankan rumah sakit. Pak Camat setempat juga menaruh perhatian besar dengan cara segera membuatkan kartu sehat untuk Galih.

Meski Galih punya kendala domisili, tapi Pak Camat tetap mengambil langkah kooperatif demi nasib seorang cucu warganya yang harus segera ditolong. Kartu sehat pun jadi dalam waktu singkat, yakni hanya butuh waktu dua hari.

Hilal Merah Indonesia (HILMI) juga mendapat laporan dari anggota Front Pembela Islam terkait kondisi Galih yang butuh pertolongan segera. Berkat bantuan semua pihak, masyarakat berhasil menggalang dana sekitar 13 jutaan rupiah serta tambahan lainnya yang akhirnya terkumpul menjadi 15 juta rupiah untuk membantu Galih.

Semua langkah alternatif sudah ditempuh, tapi hasilnya nihil. Akhirnya, keluarga kembali  bermusyawarah untuk mengambil keputusan kembali ke rumah sakit dan ikut saran medis untuk segera mengamputasi Galih.

Langkah itu akhirnya harus ditempuh mengingat kondisi Galih yang kian memprihatinkan. Secara mental, Galih pun sudah mulai siap untuk menghadapi operasi amputasi.

Apalagi dia sendiri yang harus menghadapi rasa nyeri dari hari ke hari yang membuatnya semakin tersiksa. Keluarga pun membawa Galih ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Keputusan operasi amputasi pun langsung dilakukan pihak rumah sakit tanpa menunda waktu. Hanya butuh waktu satu malam dua hari, proses operasi Galih dilakukan. Alhamdulillah proses operasi berhasil dengan sukses.

Kondisi Galih setelah diamputasi.

Kini Galih tidak merasa nyeri lagi bahkan wajahnya pun tampak bahagia meski harus kehilangan satu kakinya. Pihak keluarga pun menghibur Galih akan menggantikan kakinya dengan kaki palsu sehingga anak yang masih duduk di bangku kelas 2 ini tetap bisa bermain dengan teman-temannya tanpa harus mengeluhkan kondisinya yang tinggal satu kaki.

Keberhasilan operasi Galih tentu membuat lega semua pihak yang terlibat. Pengurus DPC FPI Jatisampurna, terutama Muhammad Yazid Bustomi, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya warga sekitar dan donator yang memberikan perhatian khusus kepada saudara Galih. Semoga solidaritas semacam ini bisa terus berlangsung pada peristiwa kemanusiaan lainnya.

Hilal Merah Indonesia (HILMI) pun mengajak para dermawan lain yang ingin menghambil bagian lain untuk meringankan beban Galih dapat menghubungi Yeni Andriawati selaku nenek dari Galih di nomor HP: 085813031688. Kiranya para dermawan dapat melebihkan apa-apa yang menjadi kebutuhan Galih ke depannya pasca operasi, terutama kebutuhan pengadaan kaki palsu. (AR)

HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Pengobatan Gratis dan Bantuan Medis / Derita Galih, Anak yang Harus Diamputasi
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram