Tareq Bassam saat dikunjungi Ketua Umum HILMI, Habib Ali Al Hamid

HILMI Tangani Pengungsi Gaza di Indonesia

Sebuah kehormatan tersendiri bagi HILMI (Hilal Merah Indonesia) bisa membantu seorang pengungsi asal Gaza, Palestina. Sekitar awal bulan Muharam HILMI yang bertepatan pada hari Kamis (21/9/2017) mendapat kontak dari Ibu Rika, seorang aktivis asal Aceh yang punya hubungan baik dengan FPI (Front Pembela Islam) semenjak kejadian tsunami di Aceh 2016 lalu.

Ibu Rika memberitahu HILMI bahwa ada seorang pengungsi Gaza terbaring di Rumah Sakit PELNI, Jakarta Barat yang membutuhkan bantuan segera.

Mendengar informasi tersebut, HILMI langsung mendatangi rumah sakit terkait dan menemui pasien asal Gaza yang dikabarkan membutuhkan bantuan segera.

Alhamdulillah setiba di rumah sakit, pengungsi Gaza itu yang bernama lengkap Tareq Bassam Mohammed Abuitewi, ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit PELNI. Meski demikian, pihak rumah sakit tetap meminta penjamin bagi Tareq Bassam yang terbaring di Unit Gawat Darurat (UGD) dan harus ditangani cepat.

Setelah HILMI terlibat, pengungsi Gaza ini akhirnya mendapat penanganan cepat dan rawat inap di kelas 3 Rumah Sakit PELNI.

Lilianne Fan, Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe dari Malaysia saat menyempatkan diri menjenguk Tareq Bassam di RS PELNI, didampingi Habib Ali Al Hamid.

Tareq Bassam selama di Indonesia memang dibawah naungan Komisioner Tinggi PBB untuk pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), yang bermarkas di Jenewa, Swiss. Meski berstatus pengungsi UNHCR dengan surat lengkap, kondisi Tareq Bassam saat itu menuntut adanya tindakan langsung dan fleksibel untuk penangangan cepat.

Sementara posisi saat itu di penghujung akhir pekan, Tareq pun harus segera ditangani cepat, maka tidak mungkin harus melapor ke pihak UNHCR yang tentunya masih membutuhkan proses birokrasi.

Menimbang kondisi tersebut, HILMI langsung segera mengambil tindakan bersedia menjadi penjamin dan harus mengeluarkan biaya awal sebesar 1 juta 650 ribu.

HILMI pun berharap penanganan pertama bisa dilakukan sehingga proses birokrasi UNHCR nantinya bisa ditangani di awal pekan. Namun ternyata tidak sesuai dengan harapan, proses penyembuhan terus berlangsung hingga sepekan dan menelan biaya sekitar 7 juta rupiah untuk biaya inap rumah sakit, obat, rontgen dan lain-lain.

HILMI pun mengajukan surat keringanan kepada rumah sakit dan akhirnya pasien dapat keluar dengan tebusan sekitar 2 juta rupiah.

Saat di rumah sakit PELNI, Tareq Bassam sempat dikunjungi sahabat lamanya, Lilianne Fan, Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe (www.geutanyoe.org) yang ikut membantu Tareq saat berada di pengasingan Malaysia. Bahkan saat Tareq di Kuala Lumpur tahun lalu, Lili sempat membantunya untuk turut serta dalam kelas bahasa Inggris.

Sekitar tiga hari lalu, Tareq Bassam kembali mengeluhkan penyakitnya pada bagian perut yang sebelumnya pernah dioperasi dan dibedah ususnya di pengasingan Turki. Dalam operasi itu sebuah alat pun dipasang di bagian ususnya.

Memang status penyakit pengungsi Gaza ini masih belum jelas. Untuk penanganan lebih lanjut dibutuhkan langkah endoscopy atau memasukkan sebuah alat untuk meneropong organ-organ dalam tubuh manusia tanpa sayatan atau dengan sayatan kulit minimal.

Tindakan penanganan semacam ini beresiko jauh lebih ringan daripada tindakan operasi, bahkan  dapat menggantikan fungsi tindakan operasi. Tentu saja HILMI tidak akan membiarkan pejuang Gaza yang saat ini bernasib sebagai pengungsi.

Terlebih Gaza saat ini menjadi simbol perlawanan ummat Islam dan pejuang kemanusiaan di dunia dalam rangka melawan kezaliman nyata Zionis Israel.

Surat keterangan pencari suaka resmi yang dipegang Tareq Bassam.

Sebagai catatan, pengungsi Gaza kelahiran 1992 ini sebelum menjadi pengungsi di Indonesia sempat terlantar di tempat pengungsian Turki. Setelah dijebloskan ke penjara karena perlawanan terhadap rezim Zionis, Tareq Bassam akhirnya dibebaskan dan dibuang ke Turki. Di negara ini, Tareq harus menjalani operasi pelengketan usus.

Setelah mengungsi di Turki, ia sempat mengungsi di Malaysia. Sebelum akhirnya mengungsi ke Indonesia, Tareq sempat mengungsi di Timor Leste.

Perjuangan seorang pengungsi dan pejuang Gaza ini begitu memilukan sehingga HILMI sebagai lembaga kemanusiaan berkomitmen kuat untuk mambantu saudara kita dari Palestina yang tertindas ini.

Untuk itu, HILMI membuka pintu selebar mungkin kepada para donatur dan masyarakat luas lainnya untuk membantu saudara yang sekaligus pejuang Gaza ini.

Donasi dapat Anda salurkan dengan menghubungi halaman kontak kami di web ini atau bisa disalurkan langsung kepada yang bersangkutan di nomor telpon 0877-7616-9410. (AR)


HILMI FPI Android

Silahkan dibagikan dan jangan lupa untuk menyertakan sumber...

Home / Program Bantuan Palestina / HILMI Tangani Pengungsi Gaza di Indonesia
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Telegram